Widget HTML #1

Banner Iklan

Air Mancur Pria




Malam itu kosan sepi. Hanya Abil dan Nizhar yang masih terjaga di kamar belakang. Lampu redup, AC berdengung pelan. Mereka sudah lama tinggal bersama sejak semester tiga. 

Abil yang biasanya pendiam, dan Nizhar yang lebih santai serta suka bercanda mesum.

“Bro, lo pernah denger male squirting?” tanya Nizhar sambil nunjukin video di HP-nya. 

Abil memerah. “Katanya bisa keluar cairan bening banyak, beda sama cum biasa. Lewat prostat.”

Abil tertawa gugup. “Gila lo. Emang lo mau coba?”

Nizhar nyengir. “Kenapa nggak? Kita berdua aja. Lo penasaran kan?”

Suasana berubah cepat. Bir dingin yang mereka minum tadi membuat mereka berani. Akhirnya Abil mengangguk pelan. 

“Tapi pelan-pelan ya, gue takut.”

Mereka pindah ke kasur Nizhar. Lampu dimatikan, hanya cahaya lampu tidur kuning samar. 

Nizhar ambil pelumas, lalu mulai dengan ciuman dan sentuhan ringan. Tangan mereka saling jelajah, napas memburu. 

Abil berbaring telentang, kakinya terbuka. Nizhar melumasi penisnya sendiri yang sudah keras, lalu melumasi lubang Abil dengan hati-hati.

“Relaks aja, Bil,” bisik Nizhar sambil perlahan mendorong pinggulnya ke depan. 

Ujung penis Nizhar masuk pelan-pelan. Abil mengerang, tangannya mencengkeram sprei. Rasanya penuh dan sedikit perih di awal.

“Pelan… ahh,” desah Abil. Nizhar berhenti sejenak, memberi waktu Abil menyesuaikan. 

Setelah Abil mengangguk, Nizhar mulai bergerak perlahan, masuk lebih dalam. 

Ketika penisnya menekan prostat Abil, tubuh Abil langsung mengejang hebat.

“Itu… di situ,” erang Abil. 

Sensasi hangat dan penuh menyebar dari dalam perut bawahnya. Bukan hanya di penis, tapi seluruh tubuhnya seperti dialiri listrik nikmat.

Nizhar semakin dalam dan ritmis, pinggulnya bergerak stabil. Setiap dorongan tepat mengenai titik sensitif Abil. 

Penis Abil sudah keras lagi meski baru ejakulasi biasa sore tadi. Nizhar memegang pinggul Abil, mempercepat sedikit gerakannya.

“Gimana rasanya?” tanya Nizhar terengah.

“Kayak… mau kencing tapi enak banget,” jawab Abil dengan suara gemetar. 

Tubuhnya berkeringat. Rasa penuh di kandung kemih bercampur kenikmatan yang dalam, seperti ada sesuatu yang mau meledak.

Nizhar terus menggoyang pinggulnya, penisnya menekan dan menggosok prostat Abil dengan irama yang pas. 

Tiba-tiba Abil menarik napas panjang, matanya terpejam rapat. 

“Niz… gue… ahh!”

Kontraksi kuat datang. Otot panggul Abil mengejang berulang-ulang. Dari uretra penisnya, cairan bening mulai menyembur keluar — bukan semen kental, tapi semprotan tipis yang terus-menerus. 

Abil squirt untuk pertama kalinya. Cairan itu keluar dalam denyut-denyut panjang, membasahi perutnya sendiri, dada, bahkan sedikit ke perut Nizhar.

Sensasinya luar biasa. Bukan orgasme penis biasa yang cepat selesai, tapi gelombang panjang yang membuat seluruh tubuh Abil bergetar hebat. 

Rasanya seperti pelepasan total, campuran ingin kencing dan kenikmatan tak berujung. Abil mengerang keras, pinggulnya terangkat sendiri mengikuti irama Nizhar.

Nizhar terpana tapi terus bergerak pelan, masih menekan prostat Abil. 

“Gila… banyak banget, Bil.”

Cairan terus menyembur sekitar dua puluh detik, bening dan hangat. Abil merasa kandung kemihnya kosong, tapi kenikmatan masih berdenyut kecil. Napasnya tersengal, tubuhnya lemas seperti habis lari jauh.

Setelah reda, Nizhar pelan-pelan menarik diri. Abil membuka mata, wajahnya campur malu dan puas luar biasa. 

“Itu… beda banget. Kayak orgasme dari dalam. Gue nggak nyangka bisa segitu.”

Nizhar tersenyum sambil membersihkan dengan handuk. “Gue juga kaget. Lo oke?”

Abil mengangguk lemah. “Lebih dari oke. Besok… lo mau coba juga?”

Mereka berdua tertawa pelan di kegelapan kamar. Malam itu, persahabatan kosan mereka memasuki babak baru yang jauh lebih intim. Hanya desah, kepercayaan, dan cairan yang membasahi sprei menjadi saksi.

Posting Komentar untuk "Air Mancur Pria"