Widget HTML #1

Banner Iklan

Kelon (2)


Tiga hari setelah Toni meninggalkan aroma tubuhnya di seprai penginapan, aku buka lagi aplikasi pelangi. 

Malam masih sepi, angin sawah berhembus dingin. Notifikasi masuk. Ichal. 

Foto profilnya gagah: badan tegap, kulit kecokelatan alami, dada bidang tanpa gym, bulu halus menjalar ke bawah perut. 

Senyumnya polos tapi mata nakalnya bilang lain.

Chatnya langsung panas. 

“Bang, aku pengen banget diciumin sambil dientot.”

Kami janjian lagi di kamar nomor 7. Lampu kuning temaram menyambut. 

Pintu terbuka, Ichal masuk dengan kaos longgar dan celana pendek. Bau sabun mandi campur keringat motor. 

Kami langsung berpelukan erat. Bibirnya lembut, lidahnya panas dan lapar. 

Tangan aku merayap ke dalam celananya, meremas kontolnya yang sudah setengah tegang.

Kali ini giliran aku yang pasrah. Ichal dorong aku ke kasur, buka celanaku dengan cepat. Kontolku langsung berdiri. 

Dia lumat kepalanya dalam-dalam, lidahnya berputar liar di batang yang berdenyut. 

“Enak… tebel banget,” erangnya. 

Lalu dia naik ke atas, olesi lubangnya dengan ludah sendiri, dan duduk perlahan di kontolku.

“Ahhh… masuk semua… gede banget, Bang…” desahnya sambil pinggulnya berputar pelan. 

Aku pegang pinggulnya yang kokoh, bantu naik-turun. Ichal menggenjot dengan irama ganas, pantatnya menampar paha ku keras. 

Suara plok-plok basah memenuhi kamar. Keringatnya menetes ke dadaku. 

Aku meremas putingnya yang mengeras, dia mendesah semakin keras.

Kami berganti posisi. Aku doggy style, mengentotnya dari belakang dengan cepat. Kontolku masuk keluar lubangnya yang licin dan panas. Ichal mengerang, 

“Lebih keras, Bang… rusak lubang aku malam ini…”

Tapi tepat sebelum aku mau meledak, Ichal tiba-tiba berhenti. Dia balik badan, mata penuh nafsu. 

“Sekarang gantian, Bang… aku mau ngentot lo.”

Dia dorong aku telentang, angkat kakiku tinggi-tinggi. Kontolnya yang panjang dan agak melengkung masuk pelan ke lubangku. 

Rasa penuh dan panas langsung menyebar. “Fuck… enak banget… sempit,” erang Ichal sambil mulai menggenjot pelan lalu semakin cepat. 

Setiap dorongan mengenai titik sensitifku, bikin kontolku menetes cairan bening.

Dia ngocok kontolku dengan tangan kasar sambil terus mengentot. Irama semakin liar. 

“Mau crot bareng ya, Bang?” bisiknya. 

Aku cuma bisa mengangguk, tubuhku sudah gemetar.

Ichal mempercepat, kontolnya menghantam dalam-dalam. Tangan dia gerak cepat di batangku. 

“Aku mau keluar… ahhh!” erangnya. Dia muncrat panas di dalam lubangku, sperma kental memenuhi. 

Saat itu juga aku meledak, muncrat deras ke perut dan dada sendiri, cairan putih kental menetes ke pusar.

Kami tergeletak lemas, napas tersengal. Ichal cium bibirku lembut, lalu bangun pelan. Dia bersihkan diri, pakai baju tanpa banyak kata. 

Sebelum keluar pintu, dia balik sebentar, “Enak banget malam ini, Bang. Makasih.”

Lalu dia pergi, sama seperti Toni. Pintu tertutup pelan. Aku sendirian lagi di kamar nomor 7, lubangku masih berdenyut, sperma Ichal masih hangat di dalam. 

Aroma seks baru bercampur dengan sisa malam sebelumnya.

Aku tersenyum tipis di kegelapan. Dua malam berturut-turut, dua cowok berbeda, dua rasa yang sama-sama vulgar dan manis. 

Angin sawah malam itu terasa lebih dingin, tapi tubuhku masih panas. Mungkin besok aku buka aplikasi lagi.

Posting Komentar untuk "Kelon (2) "