Widget HTML #1

Banner Iklan

Kelon (3)



Sisa cutiku di kampung tinggal empat hari. Malam semakin dingin, angin sawah membawa bau tanah lembab. 

Aku buka lagi aplikasi pelangi, scroll pelan sambil berharap. Kali ini muncul Danang. Foto profilnya cakep sekali: wajah tegas, rahang kokoh, kumis tipis, badan kekar ala petani muda. Laki banget. 

Tak ada sedikit pun aura pelangi di foto itu. Tapi chatnya lembut, “Mau ketemu, Bang? Aku cuma pengen pelukan dan enak-enakan bareng.”

Kami janjian di penginapan yang sama, kamar nomor 7. Lampu kuning sudah biasa menyambut. Danang datang dengan kaos oblong lusuh dan sarung. 

Bau sabun campur keringat sawah. Begitu pintu tertutup, kami langsung berpelukan lama. 

Tubuhnya hangat, dada bidang naik-turun pelan. Kami berbaring di kasur sempit, saling memeluk tanpa buru-buru. 

Jari-jarinya mengusap punggungku, bibirnya mengecup leherku pelan, seperti puisi tanpa kata.

Dia tak suka di-entot, tak suka mengentot. 

“Cukup pelukan, ciuman, dan enak bareng aja,” bisiknya malu-malu. 

Kami hanya foreplay panjang. Bibir kami saling melumat lembut, lidah menari pelan. 

Tangan aku merayap ke dalam sarungnya, meremas kontolnya yang sudah tegang keras. Besar, berurat, kepala merah mengkilap. Danang mendesah di telingaku, “Pelan, Bang… enak…”

Kami saling mengocok sambil berciuman. Kontol kami bergesekan, licin oleh precum yang menetes banyak. 

Mulutku turun ke dadanya, menjilat putingnya yang mengeras. Dia balas mengulum kontolku dalam-dalam, lidahnya berputar lambat, menghisap pelan seperti menikmati permen. 

Suara kecap-kecap basah bercampur desahan pelan kami.

Lalu Danang naik, berlutut di atas perutku. Kontolnya yang tebal menjulang tepat di depan wajahku. Matanya penuh nafsu tapi tetap lembut. 

“kocok aku, Bang… sampe muncrat ke muka lo.”

Aku pegang batangnya yang panas, mengocok naik-turun dengan irama mantap. 

Tangan satunya meremas kantongnya yang berat. Danang menggigit bibir, pinggulnya maju mundur pelan. 

“Ahh… cepet dikit… enak banget tangan lo…” erangnya. 

Aku percepat gerakan, jempolku mengusap kepala kontolnya yang licin. Napasnya semakin pendek.

Tak lama kemudian tubuhnya menegang. 

“Mau keluar… ahhh!” Danang mengerang panjang. Sperma kentalnya menyembur deras, pertama mengenai pipi dan bibirku, lalu dada, leher, bahkan sedikit ke rambut. 

Panas, banyak, beraroma maskulin kuat. Aku terus mengocok sampai tetes terakhir keluar, membasahi kulitku.

Dia turun, napas tersengal. Kami berbaring sebentar, saling memeluk lagi. Tapi tak lama. Danang bangun pelan, bersihkan diri dengan tisu, lalu pakai sarungnya kembali. 

Sebelum keluar, dia cium keningku lembut. 

“Makasih, Bang. Malam ini nyaman banget.” Lalu dia pergi, pintu tertutup pelan.

Aku sendirian lagi di kamar nomor 7. Sperma Danang masih menempel di wajah dan dada, belum kering. 

Aku tak langsung membersihkan. Hanya berbaring menatap langit-langit yang retak. 

Rasa enak masih bergema di tubuh, tapi dada terasa kosong. Seperti hati yang hanya disinggahi sebentar, lalu ditinggal pergi begitu saja. 

Malam demi malam, cowok demi cowok, semua datang dengan nafsu, pergi dengan senyum tipis.

Angin sawah meniup masuk lewat jendela kecil. Dingin. Aku tarik selimut tipis menutupi tubuh telanjangku yang lengket. Besok cuti habis. 

Mungkin ini malam terakhir di penginapan tua ini. Tapi rasa kesepian ini… entah kenapa lebih panas daripada semua sentuhan tadi.

Posting Komentar untuk "Kelon (3) "