Widget HTML #1

Banner Iklan

Kelon


Pulang kampung, Aku iseng buka aplikasi pelangi, scroll pelan sambil ngopi di warung pinggir jalan. 

Ternyata ramai banget. Banyak make, kebanyakan anak muda yang haus sensasi. 

Foto-foto mereka vulgar, badan kencang, senyum nakal, caption penuh godaan.

Swipe kanan, swipe kanan lagi. Tiba-tiba muncul Toni. Cowok 20 tahun, kulit sawo matang, otot perut terpahat, bibir tebal yang bikin penasaran. 

Chatnya langsung panas: “Mau ketemu malam ini, Bang? Aku lagi horny banget.”

Kami janjian di penginapan pinggir sawah yang sepi. Kamar nomor 7, lampu temaram kuning, kasur tipis berbau kapur barus. 

Pintu baru diketuk, Toni sudah berdiri di depan. Badannya basah keringat motor, kaos ketat menempel di badan slimnya. 

Kami langsung berpelukan erat. Bibirnya menempel di leherku, lidahnya menjilat pelan sambil berbisik, “pengen kontol lo, Bang…”

Tangan kami saling menjamah tanpa malu. Aku meremas pantatnya yang montok, jari menyusup ke celahnya yang sudah basah. 

Toni mendesah panjang, “Ahh… masukin jari dulu, Bang… pelan-pelan…” Aku nurut, dua jari masuk ke lubangnya yang panas dan sempit, bergerak maju mundur sambil mencium bibirnya dalam-dalam. 

Lidah kami saling menari, air liur menetes ke dagu.

Dia balas menarik celanaku, kontolku yang sudah ngaceng keras langsung terbebas. Toni berlutut, mulutnya langsung melahap kepala kontolku. 

“Mmmhh… enak banget rasanya,” gumamnya sambil mengulum dalam, lidahnya berputar di batang yang berdenyut. 

Aku pegang kepalanya, dorong pelan sampai kontolku masuk sampai tenggorokan. Suara gluk-gluk basah memenuhi kamar.

Kami naik ke kasur. Toni telentang, kaki terbuka lebar, lubangnya berkedut mengundang. Aku olesi kontolku dengan ludah, lalu dorong masuk pelan. 

“Aduh… gede banget, Bang… pelan… ahhh!” erangnya. 

Aku mulai menggenjot, pelan lalu semakin cepat. Tubuh kami saling bertabrakan, suara plok-plok basah bercampur desahan. Keringat kami bercampur, aroma seks memenuhi udara.

Gantian. Toni naik ke atas, duduk di kontolku, pantatnya naik turun dengan irama liar. Kontolku hilang masuk ke dalam tubuhnya yang panas. 

“Fuck… enak… lebih dalam lagi,” erangnya sambil memainkan kontolnya sendiri. 

Aku pegang pinggulnya, bantu dorong ke bawah. Kami saling memandang, mata penuh nafsu dan sesuatu yang lebih lembut, seperti puisi yang tak terucap.

Kami bergantian sampai dua kali klimaks. Pertama aku keluar di dalamnya, panas sperma memenuhi lubangnya yang berkedut. 

Kedua dia muncrat di perutku, cairan putih kental menetes ke pusar. Napas kami tersengal, tubuh lemas berpelukan di kasur sempit.

Pagi menjelang, Toni berpakaian pelan. Dia cium keningku lembut, 

“Thanks, Bang. Enak banget malam ini.” Lalu dia pergi, meninggalkan aku sendirian dengan aroma seks yang masih menempel di seprai.

Aku tersenyum tipis. Malam pelangi yang singkat, vulgar, tapi entah kenapa terasa puitis. 

Seperti hembusan angin sawah yang membawa rahasia malam.

Posting Komentar untuk "Kelon"