Widget HTML #1

Banner Iklan

Nyoba Jadi Boti




Selama ini aku selalu jadi top yang garang. Batangku yang tebal dan panjang suka menikmati lubang-lubang boti yang basah dan ketat. 

Mereka mendesah liar, pinggul mereka goyang sendiri, dan ujung kontol mereka sering bocor cairan bening yang licin tanpa disentuh. 

Aku penasaran banget. Kenapa rasanya seenak itu sampai mereka lupa diri? Aku ingin merasakannya. Ingin jadi boti, ingin dinikmati habis-habisan.

Malam itu aku chat cowok yang biasa jadi top kuat. Namanya Rian, badannya kekar, kontolnya gede dan selalu siap. 

“Malam ini aku mau bottom, bro. Ajari aku,” kataku langsung vulgar. 

Dia datang ke kosanku dalam waktu singkat, senyumnya penuh nafsu.

Kami langsung telanjang di kasur. Rian menciumku kasar, tangannya meremas pantatku. 

“Lo yakin? Lubang lo masih perawan nih,” godanya sambil jarinya mengelus lubang anusku yang masih kering. 

Aku mengangguk, kontolku sudah setengah tegang karena campuran excited dan gugup.

Dia lumuri kontolnya dengan banyak pelumas dan pakai kondom pastinya. 

“Santai aja, bro.” Kepala kontolnya menekan lubangku. 

Aku berusaha rileks, tapi begitu kepalanya masuk sedikit saja—BARU KEPALA—rasanya seperti lubangku disobek paksa. 

Panas sekali, seperti terbakar. Sakit yang menusuk sampai ke perut.

“Aduh… sialan… sakit banget, Ri!” aku mengerang, tanganku mencengkeram sprei. 

Tubuhku menegang, lubangku mengepal kuat menolak masuknya. Rian mencoba dorong pelan, tapi cuma beberapa senti lagi yang masuk. Rasanya panas, perih, dan penuh. Napasku tersengal.

“Gimana? Enak belum?” tanyanya sambil menggoyang pinggul pelan. 

Tapi aku cuma bisa menggeleng, keringat dingin keluar di dahi. Kontolku yang tadinya agak tegang malah menciut karena sakit yang mendominasi. 

Rian kelihatan kecewa, gerakannya jadi pelan dan ragu.

Dia tarik kontolnya keluar. “Ah… masih terlalu sempit. Lo belum siap banget ya.” 

Suaranya datar, jelas gak puas. Dia bangkit, ambil bajunya, pakai celana sambil geleng-geleng kepala. 

“Kapan-kapan aja deh kalau lo udah siap. Ini gak memuaskan banget soalnya. Lubang lo masih kaku, gak enak buat diewe.”

Aku terbaring telanjang, lubangku masih berdenyut panas dan perih. Pelumas menetes dari anusku yang baru dicicipi. 

Rian pergi begitu saja, pintu kosan tertutup pelan. Aku sendirian, tanganku meraba lubang yang masih sakit. Ternyata jadi boti tidak semudah yang kubayangkan. 

Sakitnya nyata, panasnya membara, dan kenikmatan yang kudengar dari boti-boti lain belum datang sama sekali.

Tapi di dalam hati, ada rasa penasaran yang semakin membara. Mungkin lain kali aku harus latihan dulu. 

Mungkin dengan jari, dengan dildo kecil. Aku ingin tahu kenapa mereka bisa mendesah enak, kenapa kontol mereka basah sendiri. 

Aku belum menyerah. Lubang ini masih harus dibuka lebar, harus dilatih agar bisa menikmati batang tebal yang menghunjam dalam-dalam.

Malam itu aku tidur dengan lubang yang masih perih, tapi pikiranku sudah membayangkan ronde kedua yang lebih liar. Kali ini, aku yang akan mendesah dan bocor sendiri.

Posting Komentar untuk "Nyoba Jadi Boti"