Widget HTML #1

Banner Iklan

Semvak Kotor Abang Kos Sebelah




Hari ketiga aku resmi jadi tukang cuci di laundry kecil pinggir gang itu. Pagi masih sepi, hanya suara mesin pengering yang berdengung pelan. Lalu pintu dibuka, dan dia masuk.

Mas-mas tetangga kos sebelah. Namanya—entah, aku belum pernah tanya—tapi wajahnya sudah kuhafal dari jendela kamar mandi kosanku yang langsung menghadap balkonnya. 

Tinggi, bahu lebar, kulit sawo matang yang terlihat licin di bawah singlet putih ketat yang sudah agak lusuh. 

Celana pendek olahraga hitam, sandal jepit lusuh, dan sekresek plastik hitam menggantung santai di tangan kirinya.

“Bisa dicuci hari ini juga, Mas?” suaranya dalam, biasa saja, tapi entah kenapa membuat jantungku seperti kena rem mendadak.

Aku mengangguk cepat, tangan sedikit gemetar saat menerima kresek itu. Dia menunggu di depan meja sambil main hape, singletnya menempel erat di dada dan perut yang rata. 

Aku mencuri pandang ke arah otot lengan yang terlihat jelas saat dia menggaruk tengkuk. 

Bayangan pelukan dari belakang tiba-tiba muncul di kepalaku—hangat, berat, dan sedikit bau keringat segar. 

Aku buru-buru menunduk, pura-pura fokus menimbang.

“Delapan ribu enam ratus,” kataku pelan.

Dia mengangguk, bayar tunai, lalu berbalik pergi. Punggungnya lebar, pinggangnya ramping, langkahnya santai. Aku memandang sampai sosok itu lenyap di tikungan gang.

Begitu pintu tertutup, aku langsung membawa kresek itu ke belakang. Membukanya pelan, seperti membuka kotak rahasia.

Isinya hampir semuanya singlet putih dan celana dalam. Delapan singlet, enam sempak hitam polos, dua boxer dalam motif kotak-kotak yang sudah agak pudar. 

Bau keringat pekat langsung menyergap. Bukan bau busuk, tapi bau laki-laki yang baru pulang olahraga, yang masih hangat, yang masih hidup.

Aku mengambil salah satu sempak hitam. Bagian depan ada bercak basah kecil, agak kekuningan di tengah. 

Jari-jariku gemetar saat mendekatkannya ke hidung. Pesing ringan bercampur garam keringat dan sesuatu yang lebih dalam—bau kelelahan, bau malam yang panjang, bau dia.

Aku menutup mata. Menghirup dalam-dalam. Sekali. Dua kali. Jantung berdegup kencang sampai terasa di telinga. 

Ini salah. Aku tahu. Tapi rasanya seperti menemukan bagian dirinya yang tak pernah dia tunjukkan ke siapa pun.

Aku mengambil singlet yang paling bau. Kerahnya sudah menguning di bagian dalam. 

Aku menempelkannya ke wajah, membiarkan kain itu menutupi hidung dan mulut. 

Bau ketiaknya kuat di sini, pekat, maskulin. Imajinasiku liar: tangannya yang mengangkat dumbbell, keringat menetes di lekuk dadanya, napasnya tersengal setelah lari pagi.

Tapi aku berhenti. Meletakkan semuanya kembali ke keranjang. Aku tidak mencuri. Aku tidak merusak. Aku hanya… mencuri napasnya sebentar.

Semua dimasukkan ke mesin cuci. Deterjen dituang, air panas dipilih, siklus normal. 

Aku menatap pintu mesin yang berputar, membayangkan kain-kain itu bergesekan, bau itu perlahan larut dalam busa.

Sore harinya dia datang lagi mengambil. Singlet yang sama sudah bersih, wangi lemon segar. Dia tersenyum tipis saat menerima bungkusan.

“Makasih ya, cepet banget.”

Aku hanya mengangguk, takut suaraku pecah.

Saat dia berbalik pergi, aku diam-diam berharap besok pagi dia muncul lagi dengan kresek yang sama. Dengan bau yang sama. Dengan rahasia yang hanya aku tahu.

Dan aku akan tetap profesional untuk pekerjaanku. Selalu.

Posting Komentar untuk "Semvak Kotor Abang Kos Sebelah"