Widget HTML #1

Banner Iklan

Tetesan Kasih Sayang



Sejak kami resmi jadian tiga bulan lalu, aku memberi satu aturan ketat pada Bara, pacarku. 

“Aku nggak mau kamu coli sendiri lagi,” kataku sambil menatap matanya dalam-dalam di kamar kosannya yang remang-remang. 

“Kalau mau keluar, harus ada aku. Sperma kamu itu milik aku.”

Bara sempat terkejut, tapi matanya langsung berkilat penuh gairah. Dia mengangguk pelan. “Deal,” jawabnya dengan suara serak.

Aku suka sekali melihatnya menahan diri. Setiap malam, setelah kami berciuman panas dan saling meraba, aku akan duduk di pangkuannya. 

Tangan halusku menggenggam batangnya yang sudah keras dan panas. 

Aku mengocoknya dengan gerakan lambat, terkadang cepat, sesuai irama nafsuku. 

Bara hanya bisa mendesah, pinggulnya sesekali terangkat, menikmati sentuhanku.

“Aku mau lihat kamu crot karena aku,” bisikku di telinganya sambil jari-jariku memilin kepala kontolnya yang basah oleh precum. 

“Jangan buang-buang di tisu. Harus di tubuh aku.”

Malam ini, seperti biasa, kami berbaring di kasur tipisnya. AC kamar berisik pelan. Bara telanjang dada, celananya sudah turun ke lutut. 

Aku hanya memakai tanktop tipis tanpa bra, rok pendek yang sudah kusingsingkan sampai pinggang. 

Tangan kananku sibuk mengocok batangnya yang tegang, urat-uratnya terlihat jelas. Tangan kiriku sesekali meremas bola-bolanya yang penuh.

“Pelan dulu, Sayang… aku mau lama,” gumam Bara sambil matanya setengah terpejam.

Aku tersenyum nakal. “Nggak boleh lama-lama. Aku pengen cepet lihat kamu muncrat buat aku.”

Gerakanku semakin teratur. Naik turun, kadang memutar di ujung. Sesekali aku menunduk dan menjilat precum yang keluar, mengecap rasa asin manisnya sebelum kembali mengocok dengan tangan yang semakin licin.

Bara mulai menggeram. Pinggulnya bergerak naik turun mengikuti iramaku. 

“Aku mau crot… mau banget…”

“Di mana mau muncratnya malam ini?” tanyaku sambil mempercepat gerakan.

“Dada kamu… perut kamu… atau… di mulut?”

Aku pura-pura berpikir sambil terus mengocoknya lebih kencang. 

“Semua boleh. Tapi malam ini aku mau di dada dan perut dulu. Habis itu… kalau masih ada, aku telan.”

Bara mendesah keras. Tangannya mencengkeram seprai. Aku naik sedikit, mencondongkan tubuhku ke depan sehingga dada dan perutku tepat di atas batangnya yang berdenyut. Tangan kananku terus bekerja cepat.

“Ahh… aku keluar…!”

Tubuh Bara menegang. Sperma panasnya menyembur kuat, muncrat pertama mengenai dada kananku, langsung membasahi tanktop tipis hingga kulitku terasa hangat. 

Muncrat kedua dan ketiga mengenai perutku yang datar, cairan kental itu mengalir pelan ke arah pusarku. Beberapa tetes bahkan mengenai daguku.

Aku terus mengocok pelan sampai sisa-sisanya keluar, memastikan tidak ada yang terbuang. Bau khas sperma memenuhi kamar kecil itu.

Dengan jari, aku mengusap cairan yang menempel di dadaku, lalu menjilatnya perlahan sambil menatap Bara. “Enak. Ini milik aku,” kataku sambil tersenyum.

Bara menarik napas panjang, wajahnya puas. Dia menarikku mendekat dan mencium keningku. 

“Kamu benar… ini memang pertanda kasih sayang yang aneh tapi bikin ketagihan.”

Aku tertawa kecil sambil mengoleskan sisa sperma di perutku seperti lotion. 

“Besok malam giliran telan semua. Deal?”

“Deal,” jawabnya sambil tertawa serak, tangannya sudah meraba punggungku lagi.

Bagi kami, sperma bukan sekadar cairan. Itu bukti gairah, bukti bahwa dia hanya untukku. Dan aku akan selalu memastikan tak ada setetes pun yang sia-sia.

Posting Komentar untuk "Tetesan Kasih Sayang"