Widget HTML #1

Banner Iklan

2 top 1 boti




Malam itu angin sejuk menusuk kulit di balkon apartemen lantai 16. Lampu kota berkelap-kelip di bawah sana seperti lautan bintang yang tak tersentuh. 

Aku berdiri telanjang bulat, tubuhku hanya dibalut angin malam. Dua pria gagah di belakangku sudah siap, kontol mereka tegang dan berkilau oleh pelumas.

“Kamu siap digilir malam ini?” tanya salah satu dengan suara serak sambil meremas bokongku kuat.

Aku hanya mengangguk, sudah basah duluan. Mereka memakaikan kondom dengan cepat, lalu satu botol pelumas dingin dituangkan ke celah bokongku. 

Jari-jari tebal langsung masuk, merentangkan lubangku pelan-pelan. Aku mendesah keras saat dua jari sekaligus mengocok dalam-dalam.

“Longgar banget nih lubang,” kata yang satunya sambil tertawa pelan.

Yang pertama maju duluan. Kontolnya yang besar dan berurat menekan masuk pelan. Aku menggigit bibir, merasakan kepala kontolnya membuka sphincter-ku. 

Begitu masuk sepenuhnya, dia langsung menggoyang pinggulnya dengan ritme kuat. Setiap dorongan membuat tubuhku bergoyang, kontolnya menghantam prostatku berulang kali.

“Ahh… dalam banget…” erangku sambil mencengkeram pagar balkon.

Dia meniduri aku dengan ganas selama beberapa menit, lalu menarik keluar. Langsung digantikan oleh yang kedua. Kontolnya sedikit lebih tebal. 

Dia masuk dengan satu dorongan kuat hingga pangkal. Aku menjerit kecil, nikmat bercampur perih. Dia langsung memompa cepat, tangannya meremas pinggangku kuat-kuat.

Mereka bergantian dengan sempurna. Satu keluar, satu masuk. Kadang mereka berhenti sejenak hanya untuk menuangkan lebih banyak pelumas agar kontol mereka semakin licin dan mudah meluncur masuk-keluar lubangku yang sudah menganga. 

Suara basah “plok-plok-plok” bercampur dengan erangan kami bertiga mengisi udara malam.

Aku sudah jadi botinya sepenuhnya. Tubuhku hanya alat pemuas mereka. Salah satu menarik rambutku ke belakang sambil terus menggoyang, yang lain meremas putingku keras. Kontolku sendiri menetes precum tanpa disentuh.

“Gantian lagi,” kata mereka.

Kali ini mereka berdiri berdampingan. Aku membungkuk lebih dalam, tangan mencengkeram pagar. Mereka bergantian memasukkan kontol mereka dengan cepat. 

Satu-dua-dua-satu. Lubangku sudah sangat longgar dan basah oleh pelumas. Setiap kali kontol berganti, rasanya seperti gelombang kenikmatan baru yang menghantam.

Angin malam semakin kencang, meniup keringat di tubuh kami. Di bawah sana, mobil-mobil kecil melaju tanpa tahu ada seorang boty yang sedang digilir habis-habisan di balkon lantai 16.

Yang pertama mengerang keras, tubuhnya mengejang. Dia menyembur di dalam kondom sambil kontolnya masih tertanam dalam. 

Beberapa detik kemudian yang kedua ikut klimaks, mendorong dalam-dalam sampai aku merasa perutku penuh.

Mereka menarik kontol mereka perlahan. Dua kondom penuh sperma tergantung di ujung kontol yang masih setengah tegang. Aku terengah-engah, lubangku menganga lebar, pelumas menetes ke lantai balkon.

Salah satu menepuk bokongku pelan. “Bagus, boty. Besok kita ulang lagi di sini.”

Aku hanya tersenyum lemah, tubuhku masih bergetar karena orgasme yang tak kunjung reda.

Posting Komentar untuk "2 top 1 boti"