Andai Cowok Bisa Hamil
Malam ini, apartemen kami gelap hanya diterangi lampu tidur kuning redup.
Aku lagi di atas, pinggulku bergerak cepat, kontolku masuk keluar lubang bf-ku yang sudah basah licin oleh pelumas dan precum kami berdua.
Dia menggigit bantal, bokongnya terangkat tinggi, menyerahkan diri sepenuhnya.
“Uhh… dalem banget, yank…” erangnya parau.
Aku ngegas lebih kencang, telapak tanganku menampar pelan bokongnya yang montok. Suara daging beradu basah memenuhi kamar.
Kontolku yang tebal dan berurat keras menusuk prostatnya berulang kali, bikin dia menggelinjang hebat.
Tiap kali aku dorong masuk sampai pangkal, dia mendesah panjang, lubangnya mencengkeram kontolku seperti pengen nahan di dalam.
Kami memang suka gantian. Kadang dia yang ngecrot di dalem aku, kadang aku yang ngecrot di dalem dia. Malam ini giliranku yang ngebor dia sampe lemes.
Aku meraih pinggangnya, menarik tubuhnya ke belakang sambil terus ngentot ganas.
“Siapa yang hamil malam ini, hm?” tanyaku sambil terkekeh, napasku tersengal.
Dia langsung ngakak di sela-sela erangan. “Kamu lah… ahh… yang hamilin aku malam ini!”
Kami berdua ketawa bareng, tapi tawa itu cepat berubah jadi erangan liar saat aku ngebut.
Kontolku membesar di dalam lubangnya, kepala kontolku menggesek titik sensitifnya tanpa ampun. Dia sudah goyang-goyang, tangannya meremas sprei kuat-kuat.
“Andai cowok bisa beneran hamil…” kataku sambil terus memompa, “kita udah gantian bunting berkali-kali.”
“Iya… ahh… tiap kali kamu crot dalem, aku pasti bilang… uhh… aku lagi hamil anak kamu…”
Aku tertawa kasar, tanganku meremas kontolnya yang sudah basah oleh precum. “Aku hamilin kamu, yank… aku hamilin… aku mau crot di dalem rahim kamu…”
Dia menjerit kecil saat aku dorong dalam-dalam dan nahan di situ. “Iya… hamilin aku… isi penuh… ah ah ah!”
Tubuhku menegang. Aku rasain orgasme naik dengan cepat. “Aku hamilin kamu… aku hamilin… Ahhh… fuck!”
Semburan panas keluar deras dari kontolku, memenuhi lubang bf-ku. Aku terus dorong pelan sambil crot berkali-kali, sperma kental mengalir keluar dari sela kontolku yang masih tertanam.
Dia ikut klimaks bareng, kontolnya menyembur tanpa disentuh, basahi sprei di bawahnya.
Kami ambruk berpelukan, napas ngos-ngosan, tubuh basah keringat. Kontolku masih setengah tegang di dalam lubangnya yang penuh cairanku.
Dia menoleh, nyengir lebar meski capek. “Besok giliran aku yang hamilin kamu, ya?”
Aku cuma ketawa pelan dan cium lehernya. “Deal. Rutin cek VCT minggu depan, biar tetap aman main gantian gini.”
Kami berdua tertawa lagi. Candaan khas kami yang selalu muncul tiap kali salah satu hampir klimaks: “Aku hamilin kamu… ah ah ah…”
Malam masih panjang. Dan kami tahu, sebentar lagi salah satu dari kami pasti minta ronde kedua. Karena begitulah kami: saling ngentot, saling isi, dan saling bikin “hamil” dalam candaan mesum yang tak pernah bosan.

Posting Komentar untuk "Andai Cowok Bisa Hamil"
Posting Komentar