Basah Karena Anak Tiri Sixpack
Setelah nikah sama suamiku yang sekarang, aku langsung pindah ke rumah besarnya di pinggir kota.
Suamiku sering dinas ke luar kota, jadi rumah ini kayak istana kosong. Tapi ada satu penghuni yang bikin aku gelisah setiap hari: Piko, anak laki-laki satu-satunya.
Umur dia 31, aku 38. Cuma beda tujuh tahun, tapi aku harus panggil dia "nak" dan jadi ibu tirinya. Gila kan?
Piko ganteng banget. Tinggi, badan proporsional, perut sixpack yang tiap kali keliatan bikin mata aku liar.
Kulitnya kecokelatan, otot dada dan perutnya kayak diukir. Tiap pulang kerja, dia langsung buka kemeja di ruang tengah, berdiri telanjang dada sambil minum air dingin.
Keringat mengalir di antara belahan perutnya. Aku pura-pura sibuk di dapur, tapi vaginaku langsung berdenyut kencang. Basah. Panas. Aku kepengin banget nyentuh.
"Aku berangkat ya, Ma," katanya tiap pagi sambil cium keningku pelan.
Bibirnya hangat, napasnya wangi. Ciuman itu seharusnya biasa aja, tapi tiap kali aku merinding sampai ke selangkangan.
Memekku langsung lembab, putingku mengeras di balik daster tipis. Aku tak mungkin suka anak tiri sendiri, kan?
Tapi tiap malam suamiku nggak ada, aku malah ngocor di kasur sambil bayangin badan Piko.
Suatu sore, hujan deras. Piko pulang basah kuyup. "Ma, handuk dong," katanya sambil nyengir.
Dia buka baju di depanku, celana jeansnya basah ketat nempel di paha kekarnya. Kontolnya keliatan tonjolan gede di balik kain.
Aku kasih handuk, tanganku sengaja nyenggol perutnya yang dingin tapi keras. "Makasih, Ma," bisiknya sambil tatap mataku dalam-dalam.
Malamnya suamiku telpon bilang dia nginep di sana. Aku sendirian. Piko keluar kamar cuma pakai boxer hitam ketat.
Kontolnya ngaceng setengah, kepala birunya samar keliatan. "Ma nggak tidur?" tanyanya duduk di sebelahku di sofa. Aku cuma geleng, jantungku deg-degan.
Tangan Piko tiba-tiba pegang paha aku. "Ma... aku tahu Ma sering ngeliatin aku." Suaranya rendah, mesum. Aku kaget tapi nggak nolak.
"Piko... kita nggak boleh..." kataku lemah, tapi memekku udah banjir.
Dia tarik aku ke pangkuannya. Mulutnya langsung nyerbu leherku, gigit pelan sambil tangannya meremas kontolnya yang udah ngaceng keras di balik boxer.
"Ma cantik banget, bikin Piko ngaceng terus tiap liat Ma."
Aku nggak tahan lagi. Aku cium balik, lidah kami berbelit mesum. Tangan aku masuk ke boxer-nya, pegang kontol Piko yang gede, tebal, urat-uratnya berdenyut. Panas banget.
Aku kocok pelan, precum-nya basahi telapak tanganku.
Piko angkat dasterku, jarinya langsung nyodok memekku yang udah licin parah.
"Wah, Ma basah banget. Buat Piko ya?" Dua jarinya masuk keluar cepat, bunyinya crotek-crotek.
Aku mendesah mesum, "Iya nak... fuck Ma... kontol Piko gede banget..."
Dia dorong aku telentang di sofa, buka boxer-nya. Kontolnya loncat keluar, kepala gede mengkilap. Dia gesek-gesek di bibir memekku sebelum dorong masuk pelan.
"Ahhh... sempit banget memek Ma..." erangnya.
Aku jerit kenikmatan, kuku aku cakar punggungnya. Piko ngocok keras, sixpack-nya naik turun tiap dorongan. Tiap hantaman kontolnya ngena titik G aku, aku hampir gila.
Piko ngebut, kontolnya berdenyut-denyut lalu muncrat panas banyak banget di dalam rahimku. Aku ikut squirting, cairan memekku muncrat basahi perut sixpack-nya.
Kami napas ngos-ngosan. Piko cium keningku lagi, kali ini lebih lama.
"Mulai sekarang setiap Papa pergi, memek Ma punya Piko ya?"
Aku cuma angguk sambil senyum mesum. Ibu tiri yang mesum ini udah ketagihan kontol anak tirinya.

Posting Komentar untuk "Basah Karena Anak Tiri Sixpack"
Posting Komentar