Capek Jadi Top
Setiap kali kontolku berdiri, dunia seolah menuntut aku jadi mesin. Harus ngertiin mood si boti, harus baca geliat tubuhnya, harus tahu kapan pelan, kapan kasar, kapan dia pura-pura melawan supaya terasa “manly”.
Kontol harus tegang sempurna, dorongan harus dalam, ritme harus pas. Harus manly. Harus kuat. Harus bisa bikin dia jerit sambil muncrat.
Malam itu aku ketemu Kemal. Tubuhnya ramping, kulitnya halus seperti sutra yang baru disetrika.
Matanya lembut, bibirnya selalu sedikit terbuka seolah siap menelan apa saja yang kuberikan. Kami bertemu di kamar hotel yang cahayanya redup, hanya lampu tidur kuning keemasan.
Aku cuma ingin cuddle.
Kami telanjang di bawah selimut tipis. Aku memeluknya dari belakang, kontolku yang setengah tegang bersandar di celah bokongnya yang hangat.
Aku mencium tengkuknya, menghirup aroma sabun mandi yang masih menempel di kulitnya. Tangan Kemal meraih tanganku, meletakkannya di dada bidangnya yang halus.
“Peluk aku aja dulu,” bisikku.
Dia mengangguk, tapi tubuhnya sudah mulai menggeliat pelan. Kontolnya yang kecil dan manis sudah mengeras, menggesek paha ku.
Aku tahu, basic role-ku tetap top. Bahkan saat aku hanya ingin diam, tanganku otomatis merayap ke putingnya, memilin pelan, membuatnya mendesah.
Kemal menoleh, matanya berkabut nafsu. “Mau masukin aku?”
Aku menghela napas panjang. Kontolku sudah keras lagi, seolah punya otak sendiri. Aku membalik tubuhnya, menindihnya perlahan.
Saat kontolku menyentuh lubangnya yang sudah licin oleh minyak, aku berhenti sejenak.
“Kenapa harus selalu aku yang aktif?” gumamku di telinganya.
Kemal tersenyum tipis, tangannya mengelus kontolku yang berdenyut.
“Kamu kan top-nya aku…”
Aku masuk perlahan, dalam, sambil menggigit bahunya. Kemal mengerang indah, suaranya seperti lagu yang sudah sering kami mainkan.
Aku menggerakkan pinggul, ritme yang terlatih, kuat, tapi pikiranku melayang.
Aku ingin sekali jadi pasif.
Ingin sekali berbaring telentang, tangan terentang lemas, mata setengah tertutup. Ingin merasakan lidah Kemal yang hangat menjilat kontolku dari pangkal sampai ujung, lalu menelannya pelan-pelan sampai ke tenggorokan.
Ingin putingku diisep, digigit pelan, ditarik-tarik sampai aku mendesah seperti pelacur yang dimanjakan.
Ingin bokongku dibelai, jari-jarinya masuk pelan sambil kontolku dihisap dalam-dalam. Ingin hanya tiduran saja, menikmati, tanpa harus memikirkan ritme, tanpa harus jadi “raja” yang kontolnya harus selalu sanggup memuaskan.
Saat aku menyembur di dalam Kemal, tubuhku mengejang kuat, tapi hatiku kosong.
Kemal memelukku setelahnya, napasnya masih tersengal.
“Kamu hebat sekali malam ini.”
Aku hanya tersenyum lelah.
Di dalam kepalaku, aku berteriak pelan:
Bisa nggak sih stigma itu dihapus saja?
Aku juga manusia.
Aku juga ingin sesekali jadi yang lemah, yang dimanja, yang hanya pasif saja.
Tiduran telentang, kontolku diisep pelan, putingku dimainin lembut, sampai aku gemetar karena terlalu enak, bukan karena harus kuat.
Malam itu aku tidur dengan Kemal di pelukanku, kontolku masih basah oleh spermanya sendiri.
Dan di dada ku, puting yang tak pernah disentuh siapa pun, terasa sangat sendirian.

Posting Komentar untuk "Capek Jadi Top"
Posting Komentar