Widget HTML #1

Jadi Sebulan Aku Tidur Sempakan Doang?



Akhirnya aku bisa pindah kos. Kos barunya lumayan besar dan nyaman, ada ruang tamu, dapur bersih, dan kamar yang cukup lega. 

Yang bikin aku paling senang, aku satu kos sama dia—cowok yang sudah beberapa bulan ini bikin pikiranku kacau. Kami panggil dia Buku.

Malam pertama bareng, setelah beres-beres, kami duduk santai di ruang tamu. Buku tiba-tiba nyengir jail sambil ngeliatin aku.

“Karena lo lupa jemput gue pulang kuliah tadi, lo kena hukuman spesial,” katanya sambil ketawa kecil.

Aku mengangkat alis. “Hukuman apa?”

“Sebulan ini lo tidur cuma pake sempak doang. Gak boleh pake baju, gak boleh pake selimut. Kalau gue lagi pengen, lo harus siap ngentot gue kapan saja. Deal?”

Aku terdiam sebentar, jantung langsung berdegup kencang. Cuaca malam di kota ini memang cukup dingin, tapi melihat mata Buku yang penuh nafsu, kontolku malah langsung bereaksi di dalam celana.

“…Deal,” jawabku akhirnya, suaraku agak serak.

Mulai malam itu, aku melepas semua baju kecuali sempak hitam ketat yang kupakai. Tubuhku cuma tertutup kain tipis itu. Buku memandangku dari ujung kaki sampai kepala, lalu nyengir puas.

Malam-malam berikutnya jadi rutinitas yang bikin aku ketagihan. Tidur hanya memakai sempak membuat tubuhku selalu sensitif. 

Dinginnya AC kadang bikin putingku mengeras, kadang bikin kontolku setengah tegang meski tidak disentuh.

Paling sering terjadi di tengah malam. Aku lagi ngantuk berat, tiba-tiba Buku bangun, tangannya langsung merayap ke sempakku. Dia remas pelan kontolku yang sudah mulai ngaceng dari dalam kain tipis itu.

“Bangun, sayang… gue lagi pengen,” bisiknya serak.

Aku membuka mata, masih setengah sadar, tapi langsung mengangguk. “Mau di mana?”

Buku tidak banyak bicara. Dia tarik sempakku ke bawah sampai kontolku loncat keluar, sudah setengah keras. Dia langsung merangkak naik ke atas tubuhku, memposisikan lubang pantatnya tepat di atas kepala kontolku yang sudah basah oleh precum.

“Masukin pelan dulu,” perintahnya sambil menggigit bibir.

Aku pegang pinggulnya, lalu pelan-pelan mendesak kontolku masuk ke dalam lubangnya yang panas dan licin. Buku mendesah panjang, matanya setengah terpejam. 

“Ahh… enak banget kontol lo…”

Aku mulai menggenjot dari bawah, tanganku meremas bokongnya yang kenyal. Suara ketipak-ketipak daging kami beradu memenuhi kamar yang gelap. 

Buku naik turun dengan rakus, kontolnya yang sudah keras menggesek perutku, meninggalkan jejak cairan bening.

Kadang dia minta kasar, kadang minta pelan sambil ciuman dalam. Setiap kali dia orgasme, lubangnya mengencang kuat sekali sampai aku ikut muncrat di dalamnya.

Pagi harinya aku bangun masih cuma pake sempak, tubuh agak pegal tapi puas. Buku yang tidur di sebelahku tersenyum malas, tangannya lagi mainin kontolku yang masih lembab.

“Masih ada 29 hari lagi hukumannya,” katanya sambil terkekeh.

Aku hanya tertawa pelan dan balik meremas bokongnya.

Posting Komentar untuk "Jadi Sebulan Aku Tidur Sempakan Doang? "