Widget HTML #1

Kamu Imajinasiku



Aku duduk sendirian di kamar kosong, lampu redup, celana sudah diturunkan sampai lutut. 

Di layar HP, foto shirtless-mu terbuka lagi untuk kesekian kalinya. 

Tubuhmu yang maskulin itu, dada bidang berotot, perut six-pack yang keras, dan garis V yang mengarah ke bawah celana pendekmu... sialan, langsung bikin kontolku tegak keras.

Aku suka matamu. Tatapan tajam yang seolah menembus jiwa, seolah bilang “ayo sini, aku tahu kamu mau apa.” 

Bibirmu yang tebal, senyum manis yang selalu muncul di foto-foto, tapi dalam imajinasiku bibir itu sedang menganga lebar, menjilat ujung kontolku yang sudah berdenyut-denyut. 

“Ahh... fuck,” gumamku sambil tangan kananku mulai naik-turun pelan di batangku yang sudah licin oleh precum.

Lekuk tubuhmu yang maskulin itu... bahu lebar, lengan berotot, pinggul sempit, dan pantat yang pasti kencang banget kalau aku bayangkan meremasnya. 

Aku membayangkan kamu berdiri di depanku tanpa baju, kontolmu yang tebal dan panjang sudah setengah tegang, urat-uratnya menonjol. 

Kamu tersenyum manis sambil bilang pelan, “Mau ngapain sama aku malam ini?”

Aku semakin cepat mengocok kontolku. Dalam imajinasi, aku berlutut di depanmu, mencium perutmu yang keras, lidahku menelusuri garis V itu sampai ke pangkal kontolmu yang wangi. 

Aku menelan kepalanya dalam-dalam, mulutku penuh dengan daging panasmu yang berdenyut. Kamu mendesah kasar, “Hisap lebih dalam, sialan... ya gitu... ahh fuck!”

Tangan kiriku meremas bola-bolaku sendiri sementara tangan kanan semakin ganas mengocok. 

Aku bayangkan kamu mendorong kepalaku, memaksa kontolmu masuk sampai ke tenggorokan. 

Air liurku menetes-netes, tapi aku tak peduli. Aku suka rasanya, suka bau maskulinmu yang bercampur keringat.

Kemudian aku bayangkan kamu membalik tubuhku, mendorongku ke tempat tidur dengan posisi doggy. 

Tanganmu yang kuat meremas pinggulku, jari-jari kasar menyentuh lubang pantatku yang sudah basah oleh ludahmu. 

“Mau aku masukin sekarang?” bisikmu di telingaku. Aku mengangguk gila-gilaan. 

Lalu kontolmu yang besar itu perlahan mendorong masuk, meregangkan dindingku dengan nikmat yang menyakitkan sekaligus enak banget.

“Ahh... dalam banget... lebih keras!” jeritku dalam imajinasi. Kamu mulai menggoyang pinggulmu dengan cepat, kontolmu keluar-masuk pantatku dengan bunyi plok-plok basah. 

Setiap hantaman menyentuh titik sensitifku, membuat kontolku menetes-netes tanpa disentuh.

Aku semakin cepat coli di dunia nyata. Napasku tersengal, keringat dingin membasahi dahi. 

“Aku... menyukaimu... tapi tak berani mendekat,” bisikku sendirian. “Lebih asyik begini... hanya imajinasi...”

Dalam fantasi terakhir, kamu mengerang keras, “Aku mau crot di dalam!” Tubuhmu mengejang, kontolmu berdenyut-denyut menyemburkan cairan panasmu yang banyak ke dalam pantatku. Sensasi itu langsung memicu klimaksku.

“Ughhh... ahhh sialan!!” Aku menyemburkan pejuhku dengan hebat. Sperma putih kental memercik ke perut, dada, bahkan sampai ke dagu. 

Beberapa tetes masih keluar sambil kontolku berdenyut pelan. Aku terengah-engah, tangan masih memegang batang yang mulai layu.

Aku memandang foto shirtless-mu lagi. Senyum manismu seolah menggodaku. Aku menyukaimu, sungguh. Tapi mendekat? Tidak. Karena imajinasi ini jauh lebih basah, lebih liar, dan lebih aman. 

Setiap malam, kamu tetap milikku sepenuhnya—di kepala dan di tanganku yang penuh pejuh.

Aku tersenyum lelah sambil membersihkan sperma dengan tisu. Besok malam, aku pasti buka foto yang sama lagi. Karena mencintaimu sebagai imajinasi... memang jauh lebih asyik.

Posting Komentar untuk "Kamu Imajinasiku"