Kangen Mantan BFku (2)
Si Ito seperti membuka sedikit harapan. Senyum tipisnya dan remasan tangannya di bawah meja membuat dadaku hangat sesaat. Tapi lalu dia menarik napas panjang, tatapannya berubah lebih tenang, lebih tegas.
“Enough is enough…” katanya pelan, tapi tegas. “Aku mau fokus ujian akhir dulu. Lagipula… aku juga tahu kamu udah punya BF baru.”
Aku langsung memotongnya cepat, suaraku agak tergesa. “aku udah putus sama dia.”
Si Ito mengerutkan kening, heran. “Secepat itu? Baru berapa minggu?”
Aku diam, tidak bisa menjawab dengan jujur. Si Ito menggeleng pelan, lalu seperti biasa, dia mulai memberi nasihat dengan suara lembut tapi tajam.
“Kamu harus lebih menghargai hubungan, bro. Ketemu lagi sama Boti itu, bicara baik-baik. Kalau masih bisa dipertahankan, ya dipertahankan aja. Jangan sampe nyesel terus-terusan.”
Nasihatnya masuk akal, tapi justru membuat rasa penyesalanku semakin membengkak.
Si Ito memang selalu seperti itu—teman ngobrol yang asyik, bijak, tidak pernah menghakimi meski dia sendiri yang terluka.
Semakin dia bicara, semakin aku sadar betapa bodohnya aku dulu.
Aku memberanikan diri bertanya, “Kamu… apa udah punya BF baru?”
Si Ito menggeleng pelan. “Belum. Dan mungkin aku gak akan pacaran lagi buat sementara. Sebentar lagi kuliah usai. Aku mau kerja, meniti karir, terus nikah. Gak semudah itu menjalin relasi baru. Mending aku mulai hidup yang lebih realistis.”
Kata-katanya seperti pisau kecil yang menusuk pelan. Aku menelan ludah, lalu dengan suara hampir bergetar aku menawarkan,
“Bisakah kita mulai lagi dari awal? Aku serius, To.”
Si Ito menghela napas panjang. Matanya menatapku lama, penuh sesal tapi juga tegas.
“Semua udah beda sekarang. Gak akan pernah sama lagi. Setiap keputusan yang diambil harus dipikirkan matang-matang. Kamu dulu pilih jalan yang kamu mau, sekarang aku juga lagi belajar memilih jalan yang lebih baik buat aku.”
Pada detik itu, aku benar-benar menyadari. Relasi aku sama si Ito bukan sekadar nafsu. Bukan hanya soal kontol yang masuk enak, desahan, atau tubuh yang gemetar sampai terpipis. Ini relasi sayang.
Sayang yang tulus, yang care, yang selalu muji “kamu top juara” dengan mata berbinar, bukan karena perfeksionis tapi karena dia benar-benar merasa puas dan dicintai.
Si Ito melihat jam di tangan kirinya.
“Aku ada agenda nih. Aku pamit dulu ya.” Dia berdiri, tersenyum tipis sambil menepuk bahuku pelan.
“Semangat ngerjain tugas akhir. Jaga kesehatan juga. Jangan lupa makan.”
Lalu dia pergi. Punggungnya yang biasa saja itu berjalan perlahan menuju pintu kantin, menyatu dengan keramaian mahasiswa lain.
Aku duduk sendirian di depan es teh manis yang sudah setengah habis, gorengan yang tidak tersentuh, dan rasa kesepian yang tiba-tiba sangat berat.
Aku menatap gelas es teh yang masih dingin. Tangan yang tadi diremasnya terasa kosong. Dulu aku mengorbankan kehangatan ini demi tubuh proporsional dan desahan liar yang ujung-ujungnya cuma umpatan.
Sekarang si Ito sudah melangkah ke depan, membangun hidup yang lebih realistis, sementara aku terjebak di penyesalan yang semakin dalam.
Kontolku mungkin masih bisa mencari yang “lebih hot”, tapi hati ini… hati ini sudah tahu mana yang sebenarnya paling berharga.
Dan kali ini, sepertinya terlambat.

Posting Komentar untuk "Kangen Mantan BFku (2) "
Posting Komentar