Kangen Mantan BFku
Aku putusin si Ito setelah dua tahun pacaran. Alasannya karena ada Boti yang mendekat. Boti lebih manis, senyumnya lembut, badannya proporsional—dada bidang, pinggang ramping, pantat kencang yang selalu bikin celanaku sesak tiap dia lewat di koridor kampus.
Si Ito memang tidak sekeren itu. Badannya biasa saja, agak gempal di perut, tapi matanya selalu hangat saat memandangku.
“Maaf, To. Aku butuh ruang,” kataku waktu itu, bohong besar.
Si Ito hanya diam, matanya berkaca-kaca, tapi dia mengangguk. “Kalau itu yang kamu mau,” jawabnya pelan.
Dua minggu kemudian aku resmi pacaran dengan Boti baru itu.
Seks dengan Boti seperti candu. Dia liar, agresif, dan punya stamina gila.
Malam pertama kami ngewek di kosannya, dia naik ke pangkuanku, memasukkan kontolku pelan-pelan sambil menggigit bibir bawahnya.
“Fuck, gede juga ya kontol lo,” desahnya.
Begitu kontolku masuk sepenuhnya ke dalam lubang pantatnya yang sempit dan panas, Boti langsung menggoyang pinggulnya dengan liar.
Aku memegang pinggang rampingnya, menikmati setiap hantaman.
Tapi setelah klimaks, sifat aslinya keluar. Dia turun dari tubuhku, napasnya masih ngos-ngosan, lalu menatapku dengan tatapan dingin.
“Kamu kurang hot sih. Gerakanmu kaku. Kayak robot lagi ngebor.”
Aku terdiam. Besoknya lagi, dan lagi. Tiap habis ngentot, Boti selalu punya catatan. “Desahanmu norak.” “Pegangan tanganmu lemes.” “Kamu harus lebih kasar, bego.”
Aku yang biasanya dominan malah sering ngalah. Aku mencoba lebih keras, lebih kasar, tapi semakin aku usaha, semakin dia mengumpat.
“Masih kurang. Kamu emang gak bakat jadi top yang bener.”
Aku bertahan karena badannya yang sempurna dan mulutnya yang bisa mengisap kontolku sampai pangkal. Tapi setiap malam, hatiku semakin kosong.
Akhirnya kami putus juga. Boti yang memutuskan, dengan kalimat pedas: “Gue capek ngajarin cowok yang gak bisa puasin gue.”
Malam itu aku sendirian di kamar, kontolku setengah tegang tapi hati kosong. Aku teringat si Ito.
Si Ito memang tidak secakep Boti itu. Badannya lebih berisi, pantatnya tidak sekencang itu, tapi dia selalu tulus.
Tiap kali aku entot dia, dia memeluk leherku erat, matanya setengah terpejam, desahannya keluar dari hati.
“Aduh… sayang… enak banget… kamu top juara…” katanya sambil terengah.
Kadang dia sampai terpipis pipis saking enaknya, cairan bening menetes dari kontolnya yang tidak disentuh.
Tubuhnya gemetar hebat, lalu dia menciumku dalam-dalam sambil berbisik, “Kamu terbaik yang pernah aku punya.”
Dia selalu muji aku, selalu bilang aku bikin dia merasa paling diinginkan. Komunikatif, care. Tiap aku stres kuliah, dia langsung tanya, “Mau cerita? Aku dengerin.” Atau kirim pesan, “Jangan lupa makan, ya.”
Aku menyesal. Sangat.
Tanpa berkabar, aku datang ke kantin kampus siang itu. Aku melihat si Ito duduk sendirian di pojok, membawa nampan dengan nasi dan lauk sederhana.
Dia terkejut saat aku mendekat. Matanya melebar, sendoknya berhenti di udara.
“Lo…?” suaranya pelan.
Aku duduk di depannya. Mulutku terasa terkunci. Aku ingin bilang “Maaf”, ingin bilang “Aku kangen”, ingin bilang “Ayo balikan”. Tapi tidak ada satu kata pun yang keluar. Aku hanya bisa menatapnya.
Si Ito tidak marah. Dia bahkan tersenyum tipis, seperti biasa. Dia bisa menempatkan diri dengan sempurna—di ruang publik dia tetap sopan, tidak pernah mempermalukan siapa pun.
“Udah makan belum?” tanyanya lembut.
Aku menggeleng.
“Mau aku pesenin minuman? Es teh manis biasa kan?” Dia sudah bangkit setengah badan, siap ke kasir.
Perhatian kecil itu seperti pukulan di dada. Dulu aku mengorbankan semua ini demi hasrat sesaat dengan tubuh sempurna Boti.
Demi kontol yang lebih enak diisap, pantat yang lebih kencang, tapi tanpa hati yang hangat.
Aku menatap si Ito yang sedang antri di kasir, punggungnya yang biasa saja, tapi entah kenapa sekarang terasa paling nyaman di dunia. Air mata hampir jatuh, tapi aku tahan.
Dia kembali dengan es teh manis dan sepiring gorengan.
“Ini, makan dulu. Kuliahnya gimana? Masih sibuk tugas akhir?”
Aku mengangguk pelan. Suaraku hampir hilang. “To… aku—”
Dia menatapku tenang, menunggu. Tidak ada dendam di matanya. Hanya kelembutan yang dulu aku sia-siakan.
Aku menelan ludah. “Aku kangen.”
Si Ito diam sebentar. Senyumnya muncul lagi, kecil dan sedih. “Aku juga, sebenarnya. Tapi… kita bicara pelan-pelan ya.”
Dia meraih tanganku di bawah meja, meremasnya pelan. Sentuhan itu hangat, familiar, dan membuat dadaku sesak.
Mungkin masih ada kesempatan. Mungkin aku harus belajar bahwa “hot” bukan hanya soal badan proporsional dan desahan porno, tapi juga soal hati yang tulus memuji “kamu top juara” sambil terpipis karena enaknya.
Dan kali ini, aku tidak akan sia-siakan lagi.

Posting Komentar untuk "Kangen Mantan BFku"
Posting Komentar