Widget HTML #1

K∅nt∅l¹n Gue, Ki



Malam itu aku langsung nelpon Eki tanpa basa-basi. Begitu dia angkat, aku langsung bilang tegas, 

“Kontolin gue, Ki.”

Di ujung telepon langsung hening. Aku bisa bayangin muka Eki yang biasanya santai itu sekarang melongo.

“Lu… kenapa sih?” suaranya terdengar bingung, campur kaget.

Aku baru aja tahu seminggu lalu dari cowok di aplikasi bahwa Eki ternyata top. 

Selama ini kami sahabat karib, jalan bareng, makan bareng, tidur bareng di kosan, bahkan pelukan biasa. 

Aku homo, dia juga homo, tapi baru sekarang aku sadar dia tipe yang suka nge-top.

Eki nggak langsung jawab iya. Dia cuma bilang, “Satu jam lagi gue ke kos lu.”

Pas Eki datang, mukanya masih keliatan bingung. Dia langsung tanya, 

“Lu kesambet apa malam ini?”

Aku ceritain jujur. “Gue baru kenalan sama cowok di app. Dia bilang pernah dientot sama lu.”

Eki langsung ngakak, nggak menampik sama sekali. “Emang bener,” katanya sambil garuk-garuk tengkuk. 

Tapi mukanya langsung berubah canggung. “Tapi… lu kan sahabat gue. Masa gue entot lu?”

“Justru karena itu,” jawabku ngeyel. “Lu cakep, Ki. Badan lu berisi, enak dipeluk, wangi, perhatian. Boti mana yang nggak klepek-klepek sama lu?”

Eki menghela napas panjang. Dia duduk di tepi kasur kosku, tangannya saling genggam gelisah. 

“Gue udah anggap lu sahabat sejati. Kalau kita ngelakuin ini, nanti gimana?”

Kami berantem mulut hampir sepuluh menit. Aku terus mendesak, dia terus nolak. Akhirnya aku nego, suaraku sudah setengah merengek.

“Yaudah… kalau gitu nyepong doang boleh kan?”

Eki garuk-garuk kepala lagi, mukanya merah. Dia diam lama, tapi akhirnya mengangguk pelan. 

“Cuma itu ya… jangan lebih.”

Aku langsung berlutut di depannya. Tangan gue gemetar saat membuka resleting celana Eki. 

Begitu kontolnya keluar, aku langsung terpana. Besar, tebal, dan sudah setengah tegang. 

Wanginya maskulin, campur sabun mandi yang biasa dia pakai. Aku pegang pelan, merasakan panas dan denyutnya di telapak tangan.

Eki mendesah pelan, matanya tertutup. “Gila… lu beneran…”

Aku nggak buang waktu. Mulutku langsung membungkus kepala kontolnya. Rasanya enak, asin manis, dan semakin keras di dalam mulutku. 

Aku hisap pelan dulu, lalu semakin dalam. Lidahku menari di batangnya, menjilat urat-urat yang menonjol. Eki menggeram, tangannya tanpa sadar memegang kepalaku.

“Pelan… ahh… sialan…”

Aku semakin semangat. Mulutku naik turun, kadang aku keluarkan kontolnya untuk menjilat bola-bolanya yang berat, lalu kembali menelannya dalam-dalam sampai ke tenggorokan. 

Eki mulai menggoyang pinggulnya pelan, napasnya semakin berat.

“Gue… gue nggak tahan lama…”

Beberapa menit kemudian, tubuh Eki menegang. Dia mendesah keras sambil memegang kepalaku lebih kuat. 

Kontolnya berdenyut di mulutku, lalu menyemburkan cairan panas yang kental. Aku telan sebisa mungkin, sisanya menetes di daguku.

Eki terengah-engah, mukanya merah padam. Dia menatapku dengan campuran malu dan nafsu yang baru bangun.

“Lo… beneran gila,” gumamnya.

Aku cuma tersenyum sambil membersihkan bibir. 

“Baru nyepong doang, Ki. Masih banyak yang bisa kita coba lain kali.”

Eki cuma geleng-geleng kepala, tapi kali ini dia nggak langsung nolak.

Posting Komentar untuk "K∅nt∅l¹n Gue, Ki"