Widget HTML #1

Malam Pertama Sama Istri Palsuku




Malam itu, setelah resepsi pernikahan yang mewah dan penuh senyum palsu, kami akhirnya masuk ke kamar pengantin di hotel bintang lima. 

Lampu temaram, tempat tidur king size dengan kelambu putih, dan aroma mawar yang menyengat. Aku melepas jas, dia melepas veil-nya dengan gerakan cepat.

“Entot aku,” pinta istriku tiba-tiba, suaranya rendah tapi penuh nafsu. Matanya berkilat menatapku.

Aku tersentak. 

“Kita kan nikah karena demi menyenangkan orang tua. Ini pernikahan bisnis, bukan cinta.”

“Tapi kan kita tetep bisa ngentot?” Dia kekeh, mendekat sambil membuka kancing baju pengantinnya satu per satu. Payudaranya yang montok mulai terlihat dari balik bra satin putih.

“Gak gitu konsepnya,” sergahku, mundur selangkah.

“Lha terus ngapain kita di kamar berdua? Main kartu?” protesnya kesal, bibirnya manyun tapi matanya tetap lapar.

Suasana hening sejenak. Aku tak terlalu mencintainya. Pernikahan ini murni keinginan papa dan mama karena merger perusahaan. 

Aku juga gak terlalu nafsu buat ngentot cewek di depanku ini, meskipun kami sudah sah jadi suami istri secara agama dan negara. Kukira dia juga begitu, ternyata salah besar.

Dia agresif. Tanpa basa-basi, dia mendekat, mendorongku ke tepi ranjang, lalu melucuti gaun pengantinnya sendiri. Tubuhnya telanjang bulat dalam sekejap. 

Payudaranya besar, putingnya sudah mengeras. Perutnya rata, pinggulnya lebar, dan memeknya yang dicukur rapi sudah basah berkilau.

“Aku ingin kontolmu,” ucapnya sambil berlutut di depanku.

“Bangsat!” gumamku dalam hati. 

Cewek ini ternyata nafsuan banget. Aku kayaknya bakal jadi pelampiasan nafsu malam ini.

Aku mencoba menahan tangannya saat dia membuka resleting celanaku, tapi dia kian agresif. Dengan cepat dia menarik celana dan boxer-ku turun. Kontolku yang masih lemas langsung dipegangnya.

“Udah sah kok, santai aja,” katanya sambil tersenyum nakal. 

Lalu tanpa aba-aba, dia menelan kontolku ke dalam mulutnya. Bibirnya hangat, lidahnya lincah. Dia nyepong dalam-dalam sampai liurnya menetes-netes membasahi batang dan bola-bolaku. 

“Mmmhh… enak juga kontol suamiku,” desahnya di sela-sela mengisap.

Aku tak bisa menikmati. Tubuhku memang bereaksi, tapi hatiku dingin. Meski begitu, kontolku mulai mengeras maksimal di dalam mulutnya yang basah dan panas.

Dia bangkit, mendorongku telentang di ranjang. Lalu naik ke atas tubuhku dalam posisi women on top. 

Tangan kanannya memegang kontolku yang sudah basah penuh liur, menggesekkannya ke celah memeknya yang licin.

“Anjing banget… memekmu banjir,” kataku tanpa sadar.

Dia terkekeh. 

“Karena aku udah pengen dari tadi sore liat kamu di altar.” 

Lalu dia turun pelan. Kontolku masuk pelan-pelan ke dalam memeknya yang sempit dan panas. 

“Aahhh… gede juga ya,” erangnya sambil memejamkan mata.

Dia mulai naik turun dengan agresif. Memeknya menggesek batang kontolku naik-turun, bunyi “plok-plok-plok” basah terdengar jelas. 

Payudaranya bergoyang-goyang liar di depan wajahku. Aku tak sengaja meremas keduanya, putingnya keras di telapak tanganku.

“Lebih cepat… entot aku lebih dalam!” pintanya sambil menggoyang pinggulnya semakin kencang. 

Memeknya semakin basah, cairannya menetes-netes membasahi pangkal kontolku dan selangkangan kami.

Aku akhirnya ikut gerak, mendorong pinggulku ke atas setiap kali dia turun. 

“Kamu ternyata jalang juga ya di balik sikap dinginmu tadi,” kataku kasar.

Dia tertawa sambil mendesah. 

“Kamu juga… kontolmu ngaceng banget di dalam memek istri bisnismu. Ngaku aja, enak kan?”

Aku tak menjawab. Hanya mendesah kasar saat rasa enak mulai menjalar. Meski hatiku tak ikut, tubuhku menikmati. Dia semakin liar, memeknya mengencang, tubuhnya bergetar.

“Aku mau keluar…!” erangku.

“Keluarin di dalam aja… isi memekku!” jeritnya.

Aku menyemburkan mani panas ke dalam rahimnya berkali-kali. Dia menjerit kenikmatan, tubuhnya kejang-kejang di atas tubuhku. Memeknya berdenyut-denyut mengisap sisa-sisa air maniku.

Dia ambruk di dada-ku, napasnya tersengal. 

“Lihat? Pernikahan bisnis kita ternyata bisa enak juga.”

Aku hanya diam, menatap langit-langit kamar. Meski kontolku masih di dalam memeknya yang basah, aku tahu besok pagi kami akan kembali ke peran masing-masing. 

Tapi malam ini… dia berhasil membuatku ngaceng maksimal.

Posting Komentar untuk "Malam Pertama Sama Istri Palsuku"