Widget HTML #1

Puasin aku sebelum kamu pergi




Malam itu, rumah kami terasa lebih gelap dari biasanya. Suamiku, Mas Andi, besok pagi berangkat ke Malaysia. 

Kerja kontrak dua tahun, katanya, biar tabungan kami tebal. Anak kami udah kelas 3 SD, biaya sekolah makin gila, tagihan listrik naik, belum lagi kebutuhan sehari-hari. 

Aku ngerti alasannya, tapi hati ini tetap nggak rela.

Aku nangis di kamar, pelan-pelan, sambil megang foto keluarga kecil kami. Mas Andi masuk, langsung peluk aku dari belakang. 

“Udah, Sayang… dua tahun doang. Nanti pulang bawa duit banyak, kita liburan ke Bali bareng si kecil.”

Aku cuma bisa sesenggukan. 

“Tapi aku takut sendirian, Mas…”

Dia balik badanku, matanya lembut tapi ada api yang lain. 

“Malam ini kita manfaatin sebaik-baiknya ya.”

Mulai jam tujuh malam, kami nggak keluar kamar. Pintu dikunci, lampu redup. Mas Andi mencium aku pelan dulu, lalu makin dalam, makin lapar. 

Baju kami lepas satu per satu. Dia angkat aku ke kasur, lalu kami mulai.

Itu bukan sekadar seks biasa. Itu ngentot terlama yang pernah kami lakukan. 

Dari jam tujuh sampai jam dua belas malam, hampir lima jam nonstop. 

Kadang pelan, penuh kasih sayang, dia bisikin “Aku sayang kamu” di telinga sambil gerak pelan-pelan. 

Kadang tiba-tiba kasar, dia pegang pinggangku kuat-kuat, dorong dalam-dalam sampai aku teriak keenakan. 

Kami ganti posisi berkali-kali: misionaris, doggy, aku di atas, dia berdiri sambil angkat kakiku. 

Keringat kami bercampur, sprei basah, napas kami ngos-ngosan.

Tiap kali dia keluar, kami istirahat sebentar, minum air, pelukan, ciuman. Lalu mulai lagi. Aku orgasme berkali-kali sampai badanku gemetar. 

Mas Andi juga, tapi dia kuat banget malam itu. Kayak mau stok kenangan buat bertahun-tahun.

Pukul dua belas lewat, kami akhirnya berhenti. Badanku pegal semua, tapi puas banget. Kami berbaring telanjang, pelukan erat. 

“Kalau kamu kangen… ingat malam ini aja dulu,” katanya sambil usap rambutku.

Pagi harinya dia berangkat. Aku antar sampai bandara, nangis lagi. Anakku nanya kenapa Mama sedih, aku cuma bilang kangen Papa.

Sekarang sudah sebulan dia di sana. Video call tiap malam, tapi beda. Aku mulai merasakan yang aku takutkan itu.

Malam-malam, badanku panas sendiri. Aku coba onani, tapi nggak sama. Perempuan emang beda. 

Pria bisa cukup pegang kontolnya sendiri, keluar, selesai. 

Kita? Butuh sentuhan, pelukan, napas orang lain di leher, suara erangan di telinga, rasa diinginkan. 

Aku butuh Mas Andi yang memeluk pinggangku dari belakang, mencium bahuku, lalu pelan-pelan masuk dari samping sambil bisik “Kamu milik aku”.

Aku takut. Tubuh ini rapuh. Kalau godaan datang? Tetangga yang sering bantu angkat gas, atau temen lama yang tiba-tiba chat “Lagi apa, Ra?”. 

Aku nggak mau selingkuh, tapi aku juga nggak yakin bisa tahan bertahun-tahun tanpa disentuh.

Kadang aku duduk di kasur yang dulu kami basahi keringat bersama, pegang bantal yang masih bau dia, dan bertanya-tanya dalam hati:

“Apakah aku bisa bertahan sendirian, Mas? Atau suatu hari nanti… aku akan mencari pengganti hangatnya pelukanmu?”

Posting Komentar untuk "Puasin aku sebelum kamu pergi"