Widget HTML #1

Sempak Damar




Tugas riset sosial itu memaksa aku berpasangan dengan Damar. Kami sudah saling kenal sejak semester lalu, tapi hanya sebatas “hai” di koridor dan anggukan kepala saat bertemu di kelas. Tidak lebih.

Sekarang kami satu tim. Setiap sore kami bertemu, membahas metodologi, kuesioner, dan analisis data. Awalnya canggung. Tapi lama-lama Damar mulai nyaman. 

Dia tipe cowok cool yang jarang bicara banyak. Tinggi, kulit sawo matang, rahang tegas, dan senyumnya—kalau muncul—hanya sekilas, tapi cukup membuat jantung cewek-cewek di kelas berdegup. 

Aku? Aku lebih banyak bicara. Dia cuma mengangguk, sesekali memberi masukan singkat dengan suara rendah yang tenang.

Suatu sore, aku main ke kosannya karena deadline sudah dekat. Kamar kos Damar kecil, rapi, berbau sedikit kopi. 

Kami duduk di lantai, laptop terbuka di tengah. Aku menjelaskan konsep teori yang kami pakai, tangan ku gerak-gerak antusias. 

Damar mendengarkan sambil bersandar ke dinding, sesekali menggumam “iya” atau “bisa dicoba”.

Pandanganku tiba-tiba terganggu.

Di balik pintu kamar, tergantung celana jeansnya. Dan tepat di sebelahnya, tercantol sempak polos. 

Sempak biasa. Tapi milik Damar. Cowok yang cool, cakep, dan tinggi itu.

Aku punya fetish yang aneh. Sempak. Bau tubuh cowok yang sudah dipakai seharian. Apalagi kalau pemiliknya semenarik Damar. 

Napasku langsung berubah. Kata-kataku mulai tersendat. Fokusku buyar total. Aku terus mencuri pandang ke arah pintu itu, bayangan sempak itu seperti magnet.

Damar mengerutkan kening. “Kamu baik-baik aja? Kok tiba-tiba diem?”

“Aku… iya, baik,” jawabku cepat, tapi suaraku agak parau.

Dia mengangguk pelan, lalu bangkit. 

“Aku ke kamar mandi dulu ya, bentar.”

Begitu pintu kamar mandi tertutup, aku tidak bisa menahan diri. Jantungku berdegup kencang. Aku bangkit cepat, mendekati pintu. 

Dengan tangan gemetar, aku meraih sempak hitam itu dari cantolan. Kainnya masih agak lembab. Aku mendekatkan ke hidungku dan menghirup dalam-dalam.

Apek. Manly. Campuran keringat dan sedikit pesing yang khas. Bau tubuh Damar. Aku memejamkan mata, menghirup lagi lebih lama. 

Kepalaku pusing, campuran malu dan kenikmatan aneh yang sulit kujelaskan. Aku bahkan tidak sadar pintu kamar mandi sudah terbuka.

Damar berdiri di ambang pintu, handuk kecil di leher, rambutnya masih basah. Matanya terbelalak heran, menatap aku yang masih memegang sempaknya di depan hidung.

“Ngapain… bro?” tanyanya pelan, suaranya datar tapi ada nada keheranan yang jelas.

Aku tersentak. Tangan ku langsung menurunkan sempak itu, tapi terlambat. Wajahku panas membara. Lidahku kelu, tidak ada kata yang keluar. Hanya detak jantung yang memekakkan telinga.

Damar tidak bergerak. Dia hanya menatap aku, ekspresinya sulit dibaca—antara bingung, terkejut, dan… entah apa lagi. 

Udara di kamar kos kecil itu tiba-tiba terasa sangat pengap.

Aku berdiri di sana, sempak Damar masih tergantung lemas di tanganku, sementara tatapannya tertuju tepat padaku. Menunggu penjelasan yang entah bisa kujelaskan atau tidak.


Posting Komentar untuk "Sempak Damar"