Widget HTML #1

Banner Iklan

Suaminya Kakakku



Sudah kesekian kalinya Kak Yonef datang dari belakang dan mengusap rambutku pelan sambil lewat di ruang makan. 

Jari-jarinya yang hangat menyusuri helaian rambutku, lalu turun sebentar ke tengkuk sebelum dia melanjutkan langkah. 

Suasana langsung jadi canggung buatku. Jantungku berdegup kencang, pipiku panas. Tapi penghuni rumah lain—termasuk Kakak kandungku sendiri—seperti tak peduli. Mereka terus makan dan ngobrol biasa.

Kak Yonef adalah suami Kakak. Sudah setahun mereka menikah dan dia tinggal di rumah ini. Awalnya aku biasa saja. Tapi sekarang setiap sentuhannya membuat tubuhku bereaksi aneh.

Suatu malam aku protes pelan ke Kakak di kamarnya.  

“Kak, kenapa sih suami Kakak suka banget usap-usap rambut aku? Aku kan bukan anak kecil.”

Kakak hanya tertawa kecil. 

“Yonef dulu punya adik cowok, umurnya mirip kamu. Dia udah meninggal. Mungkin dia cuma kangen aja.”

Tapi bagiku bukan sekadar kangen. Setiap kali jari Kak Yonef menyentuh rambutku, kontolku langsung setengah tegang di balik celana pendek. 

Dan yang lebih parah, aku juga ikut basah. Aku sadar ini salah. Dia suami kakakku. Tapi otakku terus memutar bayangan itu.

Pagi itu aku lagi duduk di meja makan sendirian. Kak Yonef keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk orange tipis yang melilit pinggangnya. 

Tubuhnya basah, dada bidang berbulu tipis, perut rata dengan garis V yang jelas, dan otot lengan yang tegang. 

Bau sabun maskulin langsung memenuhi ruangan. Handuk itu begitu tipis sampai aku bisa melihat bentuk kontolnya yang menggantung berat di balik kain.

Aku langsung ngaceng. Celana pendekku menegang tak tertahankan. 

“Njirr…” gumamku dalam hati.

Dia berjalan mendekat, masih dengan handuk yang hampir melorot. Tanpa kata, tangannya lagi-lagi naik ke kepalaku. 

Mengusap rambutku pelan, lalu turun ke tengkuk, jempolnya menggosok lembut kulitku. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang hangat dan segar. 

Kontolku berdenyut-denyut, kepala kemaluanku sudah basah oleh precum.

“Kak…” suaraku hampir hilang.

Dia menunduk, bibirnya dekat sekali dengan telingaku. 

“Kenapa, Dek? Rambutmu lembut sekali.”

Aku berani sumpah, saat itu kontolnya sudah fully hard di balik handuk. Tonjolannya menekan kain tipis, hampir menyentuh lenganku. 

Aku ingin sekali meraihnya, menarik handuk itu turun, dan melihat batang tebal milik Kak Yonef yang sudah berdiri tegak untukku.

Tapi aku hanya bisa diam, napasku tersengal. Badanku panas. Kalau dia terus begini setiap hari, aku benar-benar bisa mati sange. 

Aku ingin dia dorong aku ke meja makan, buka handuknya, lalu masukkan kontolnya yang besar dan panas itu ke dalam mulutku sambil tetap mengusap rambutku dengan sayang.

Aku tahu ini terlarang.  
Tapi semakin terlarang, semakin aku basah dan ngaceng setiap kali Kak Yonef menyentuhku.

Dan entah sampai kapan aku bisa menahan diri.

Posting Komentar untuk "Suaminya Kakakku"