Widget HTML #1

Banner Iklan

Tau Diri, Dia Terlalu Gagah dan Tampan




Aku berdiri di sudut koridor perpustakaan kampus yang sepi, pura-pura membaca buku tebal yang tak kumengerti. Mataku terus tertuju padanya.

Dia terlalu sempurna. Tubuh gagah dengan otot lengan yang tebal dan berukir tajam, bisepnya menonjol setiap kali ia mengangkat tangan untuk meraih buku di rak atas. 

Dada bidangnya terlihat jelas di balik kaos tipis kampus, otot pektoralnya keras dan tegas, naik-turun pelan saat ia bernapas. 

Keringat tipis karena udara panas siang itu membuat kaosnya menempel di kulit. Yang paling membuatku gila adalah lekukan ketiaknya—dalam, gelap, berbulu halus, dan basah oleh keringat. 

Setiap kali ia angkat lengan, aroma maskulin campur keringat segar menyengat hidungku dari kejauhan. Aku ingin mengubur wajahku di sana, menjilatnya sampai bersih sambil merasakan panas tubuhnya.

Dia tampan sekali. Rahang tegas, bibir penuh, mata tajam. Aku? Hanya mahasiswa biasa. Badan kurus, perut agak buncit, muka pas-pasan. 

Aku bahkan tak pernah peduli dengan penampilan fisikku sendiri. Kenapa dia harus melirikku?

Tapi aku sangat menginginkannya. Setiap malam aku membayangkan dia menindihku di kamar kos, dada bidangnya menekan dada kurusku, otot lengannya mengunci pergelangan tanganku di atas kepala. 

Aku ingin merasakan kontolnya yang pasti besar dan tebal itu memenuhi mulutku kasar sampai tenggorokanku penuh dan air mata keluar. 

Ingin ia menarik rambutku sambil mendorong pinggulnya, "Hisap lebih dalam, jalang," katanya dalam bayanganku.

Banyak yang menginginkannya. Aku tahu. Cewek-cewek di kampus selalu meliriknya diam-diam, bahkan beberapa cowok juga. 

Mereka semua lebih cantik, lebih berbadan bagus, lebih layak. Aku hanya pengagum diam-diam yang takut mendekat.

Suatu sore, perpustakaan hampir kosong. Ia baru selesai belajar di meja pojok. Keringat tipis membasahi leher dan ketiaknya. 

Ia berjalan ke arahku untuk mengambil tas yang kebetulan diletakkan di bangku sebelahku.

"Lo yang selalu ngeliatin gue dari tadi ya?" tanyanya tiba-tiba, suaranya rendah dan berat.

Aku membeku. Jantungku hampir copot.

"I-iya... maaf," gumamku pelan.

Dia tersenyum miring, mendekat. Bau keringat maskulinnya langsung menyerbu. Ia angkat tangan kanannya, memperlihatkan lekukan ketiaknya yang basah dan berotot. 

"Mau cium?"

Aku tak bisa menjawab. Hanya menatapnya dengan nafsu yang sudah tak tertahankan.

Dia tertawa pelan. 

"Lo memang nggak sebanding gue. Badan lo biasa aja, muka lo juga. Tapi gue suka yang penurut. Malam ini ke kosan gue. Gue mau liat seberapa dalam lo bisa nyedot kontol gue sampai muntah."

Malam itu, aku akhirnya memilikinya.

Ia mendorongku berlutut di depannya di lantai kamar kos yang sempit. Kontolnya memang sebesar yang kubayangkan—tebal, berurat, kepala merah mengkilap precum. 

Ia memegang kepalaku dengan tangan besarnya, otot lengannya menegang keras, lalu mendorong masuk kasar hingga pangkal. 

Aku tersedak hebat, air liur menetes deras dari sudut bibirku, tapi ia tak peduli. Ia menggoyang pinggulnya brutal, meniduri mulutku dalam-dalam.

"Bagus... lo emang lahir buat jadi pelacur gue," desisnya sambil menatapku dari atas dengan mata penuh nafsu.

Kemudian ia membalik tubuhku, menekan dada bidangnya ke punggungku. Kontolnya menusuk lubang pantatku tanpa ampun, membelahku lebar. 

Rasa sakit bercampur kenikmatan membuatku menjerit pelan. Ia menggigit bahuku sambil mengentotku keras dan cepat, keringatnya menetes ke punggungku.

"Lo milik gue sekarang. Meski lo nggak layak sama sekali."

Aku hanya bisa mengerang dengan suara parau, "Iya... aku milik lo... fuck aku lebih keras..."

Dan dia melakukannya. Sampai pagi harinya aku terbangun dengan kontol membasahi celana dalam. Shit!!! Mimpi ternyata. 

Posting Komentar untuk "Tau Diri, Dia Terlalu Gagah dan Tampan"