Widget HTML #1

Terpaksa Menikah



Di usia 33 tahun, aku terpaksa menikah. Tekanan dari keluarga sudah tak tertahankan lagi. Papa memperkenalkanku dengan anak temannya—seorang perempuan yang energik, penuh semangat, dan hyper di atas segalanya. 

Pernikahan itu terjadi cepat, lebih karena tuntutan sosial daripada cinta. Kami saling tidak mengenal benar, tapi sudah terlanjur terikat.

Di rumah, hubungan kami terasa formal dan dingin, seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal bersama. 

Tak ada obrolan hangat layaknya suami istri, tak ada tawa kecil di meja makan, tak ada pelukan malam hari yang penuh kasih. 

Kami hanya bertukar kata seperlunya: “Makan sudah?” atau “Aku keluar dulu.” Pernikahan ini seolah hanya sandiwara untuk memenuhi harapan orang tua dan lingkungan sekitar.

Namun malam hari, semuanya berubah drastis.

Malam itu, seperti biasa, ia mendekatiku dengan mata yang berkilat. 

Tubuhnya yang ramping dan penuh tenaga langsung menempel padaku. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Ia hyper, tak pernah puas hanya sekali. 

Tiap kali kami berhubungan, ia bisa meminta berkali-kali, berganti gaya dengan lincahnya.

“Aku mau lagi,” bisiknya manja, napasnya sudah memburu.

Aku kewalahan. Tubuhku lelah, tapi ia tak peduli. Tangan kecilnya dengan cepat mengambil kain sutra tipis dari laci. 

Ia mengikat tanganku ke kepala ranjang, lalu kakiku ke tiang ranjang dengan gerakan yang sudah terlatih. Aku tak bisa bergerak. Hanya bisa terbaring pasrah.

Ia naik ke atas tubuhku, duduk manja di pangkuanku. Dengan gerakan pelan tapi pasti, ia menurunkan tubuhnya, menyatukan kami. 

Kontolku masuk sepenuhnya ke dalam dirinya. Ia mendesah girang, suaranya manja dan penuh kenikmatan.

“Ahh… enak sekali…”

Ia mulai naik turun, pelan dulu, lalu semakin cepat. Pinggulnya berputar, naik turun dengan ritme yang membuatku sulit bernapas. 

Matanya setengah terpejam, bibirnya terbuka, mendesah semakin keras. Tubuhnya yang lentur bergerak lincah, seolah tak ada lelahnya.

Aku hanya bisa menatap langit-langit kamar, dada terasa sesak. Hampir menangis. Hidupku kini seperti alat pemuas nafsunya semata. 

Setiap malam aku menjadi boneka yang diikat, yang dinaiki, yang digunakan sampai ia puas. Kadang ia berganti posisi, kadang ia memintaku dari belakang, tapi seringkali ia suka menguasai dari atas, duduk manja sambil menggoyang pinggulnya dengan girang.

“Lagi… aku mau lagi…” desahnya sambil mempercepat gerakan.

Aku meratapi nasib dalam hati. Usia 33 tahun, seharusnya aku sudah punya kehidupan yang tenang, mungkin dengan pasangan yang saling mencinta. 

Bukan seperti ini—terjebak dalam pernikahan yang kosong di siang hari, tapi penuh nafsu liar di malam hari. 

Kami sudah terlanjur saling menjamah tubuh satu sama lain, tapi hati kami tetap jauh.

Setelah beberapa ronde, ia akhirnya ambruk di dada ku, napasnya tersengal, wajahnya puas. Aku terbaring diam, tangan dan kaki masih terikat, air mata hampir jatuh. 

Besok pagi, kami akan kembali formal. Ia akan memanggilku dengan nada sopan, aku akan menjawab dengan datar. Tak ada yang tahu apa yang terjadi di balik pintu kamar ini.

Pernikahan ini adalah tuntutan sosial yang telah merenggut kebebasanku. Aku hanya bisa bertahan, meratapi dalam diam, sementara tubuhku terus menjadi miliknya setiap malam.

Posting Komentar untuk "Terpaksa Menikah"