8 Tahun BFan Akhirnya Kami Berpisah
Delapan tahun. Itu bukan waktu yang pendek. Aku dan Dave sudah pacaran sejak semester empat kuliah.
Dari ciuman malu-malu di kosan sempit sampai entot-entotan brutal di setiap kesempatan.
Dia suka aku yang agresif, suka kalau kontolku yang tebal masuk kasar ke lubangnya sambil aku pegang pinggulnya erat-erat.
“Keras, Bang… entot aku sampe jebol,” biasanya dia merengek seperti pelacur setiap malam.
Tapi hari itu, semuanya berubah.
“Kata ortu, mereka sudah siapin jodoh buat aku,” kata Dave pelan sambil merokok di balkon apartemenku. Matanya tidak berani menatapku.
“Terus hubungan kita?” tanyaku, suaraku hampir bergetar.
Dia hanya mengangkat bahu.
“Entahlah.”
Malam itu aku tidak bisa tidur. Delapan tahun penuh memori kontol, sperma, dan janji setia.
Aku yang pertama membuka lubang Dave. Dia yang pertama ngisep kontolku sampai tenggorokan. Kami pernah fuck di toilet kampus, di mobil, bahkan di kamar Dave saat orang tuanya tidur di lantai bawah.
Aku ingat betul bagaimana Dave menggigit bantal supaya tidak berteriak saat aku pompa pantatnya kuat-kuat sampai air mani kami berdua banjir di sprei.
Keesokan harinya aku memberanikan diri ke rumah Dave. Rumah mewah dua lantai di pinggir kota. Bapaknya sedang duduk di ruang tamu sambil baca koran. Aku langsung bicara.
“Pak, saya sayang Dave. Bukan sebagai temen. Lebih dari itu.”
Bapak Dave tertawa keras, mengira lelucon. Tapi aku tidak mundur. Aku jelaskan semuanya dengan suara tegas.
“Ini serius, Pak. Kami sudah pacaran delapan tahun. Sudah banyak yang kami lakukan. Dave sudah saya entot berkali-kali. Bahkan saat saya nginap di sini, di kamarnya, di tempat tidur ini. Saya masukin kontol saya ke lubang Dave sampe dia minta ampun. Dia juga sering ngisep kontol saya sampai keluar di mulutnya.”
Suasana langsung hening seperti kuburan.
Bapak Dave terkejut, mukanya memerah. Matanya melotot ke arah Dave yang berdiri di belakangku.
“Benar itu, Dave?”
Dave ragu-ragu, tapi akhirnya mengangguk pelan. Kepalanya tertunduk.
Bapaknya bangkit dari sofa tanpa kata, meninggalkan kami berdua dalam keheningan yang canggung.
Sejak hari itu, Bapak Dave tidak mau bertemu denganku lagi. Bahkan sekadar menyapa pun tidak.
Beberapa hari kemudian, Dave datang ke apartemenku dengan muka pucat.
“Ortu kasih pilihan. Aku harus nikah sama anak temen bisnis Papa… atau… aku boleh terus sama kamu, tapi mereka akan putusin hubungan sama aku sepenuhnya.”
Aku menatapnya tajam.
“Kamu pilih apa?”
Dave diam lama. Air matanya turun.
“Maaf… aku pilih yang ortu.”
Saat itu rasanya dunia runtuh. Aku yang selama ini selalu mendominasi di ranjang, yang suka mencengkeram rambut Dave sambil ngebor lubangnya dari belakang, sekarang berdiri seperti orang bodoh.
“Kamu serius?” suaraku parau. “Delapan tahun kita fuck tiap minggu, kamu ngisep kontolku kayak pelacur haus, kita saling telan air mani masing-masing… dan sekarang kamu pilih kawin sama cewek yang bahkan belum kamu kenal?”
Dave menangis. “Aku takut, Bang. Aku capek bohong terus. Keluarga aku… mereka nggak akan terima.”
Aku mendekat, tanganku menyentuh dadanya. “Terakhir kali. Biar aku ingat rasanya.”
Kami tidak bicara lagi. Dave membiarkan aku tarik bajunya. Aku dorong dia ke sofa, buka celananya kasar.
Kontol Dave sudah setengah tegang. Aku langsung masukin ke mulutku, ngisep kuat-kuat seperti biasa. Dave mendesah, tangannya memegang kepalaku.
“Terakhir, Bang… entot aku yang kenceng.”
Aku tidak perlu disuruh dua kali. Aku lumasi kontolku dengan ludah, angkat kaki Dave tinggi-tinggi, lalu tusuk lubangnya dalam satu hentakan keras. Dave menjerit. Aku pompa ganas, seperti mau membalas semua pengkhianatan ini dengan kontolku. Setiap hantaman aku sertai kata-kata kasar.
“Delapan tahun, Dave… delapan tahun lubang ini milik aku! Sekarang kamu mau kasih ke orang lain? Huh?!”
Aku entot dia tanpa ampun. Suara tabrakan tubuh kami memenuhi ruangan. Dave menangis sambil mendesah, kontolnya menetes precum. Akhirnya aku keluar di dalamnya, menyemburkan air mani panas ke dalam lubang yang sudah kuhancurkan berkali-kali.
Setelah selesai, kami berbaring diam. Sperma mengalir keluar dari lubang Dave.
Besoknya dia resmi putus denganku. Dua bulan kemudian aku dengar dia sudah bertunangan dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Delapan tahun hanya jadi kenangan basah yang sekarang tinggal luka. Kadang aku masih ingat desahan Dave saat kontolku menghantam prostatnya. Tapi sekarang lubang itu bukan milikku lagi.
Dan aku? Aku cuma bisa menggenggam kontolku sendiri di malam sepi, mengingat bagaimana dulu Dave selalu memohon agar aku isi dia penuh.

Posting Komentar untuk "8 Tahun BFan Akhirnya Kami Berpisah"
Posting Komentar