Setelah Futsal 💦
Setelah pertandingan futsal sore itu, badanku banjir keringat. Kaos tipis menempel di dada, celana pendek ketat menonjolkan kontol yang setengah tegang karena adrenalin. Elan berjalan di sampingku, senyumnya nakal. Kosnya cuma lima menit lewat gang sempit, lantai empat.
“Ke kos yuk, mandi bareng,” ajaknya sambil nyengir. Aku tahu maksudnya. Sudah lama kami saling pandang di lapangan, kontolnya sering ngaceng pas rebutan bola.
Begitu pintu kos tertutup, Elan langsung dorong aku ke dinding. Bibirnya menyambar kasar, lidahnya masuk dalam.
Tangan kasarnya meremas bokongku dari balik celana. “Gue udah siapin kondom sama pelumas,” bisiknya di telingaku, suaranya parau nafsu.
Kami buka baju cepat. Tubuh kami masih lengket keringat, bau cowok bercampur. Kontol Elan sudah berdiri tegak, kepala merah mengkilap, agak melengkung ke atas.
Kontolku juga ngaceng keras, urat-uratnya kelihatan. Kami saling pegang, gosok-gosok kasar sambil ciuman.
Elan dorong aku ke kasur. “Gue dulu,” katanya sambil pakai kondom. Pelumas dingin dioleskan ke lubang bokongku. Dia angkat kakiku ke bahunya, lalu dorong pelan.
“Ahh… sial, enak banget,” erangku saat kontolnya masuk perlahan, meregangkan lubangku. Elan mulai ngentot ritmis, semakin dalam dan cepat. Suara tok-tok-tok daging bertemu memenuhi kamar.
Jendela terbuka lebar, angin malam masuk, tapi lantai empat aman. Siapa pun yang lewat gang bawah cuma dengar erangan samar.
Posisi pertama: missionary. Elan ngebor dalam, tangannya meremas kontolku. “Enak ya, bangsat?” katanya sambil terkekeh. Aku cuma bisa mendesah, “Terus… lebih kenceng!”
Kami ganti posisi kedua. Aku naik ke atas, cowgirl. Kontolnya masuk full sampai pangkal. Aku goyang pinggul liar, naik turun sambil Elan memegang pinggangku. Keringat kami bercampur lagi. Aku pegang kontolku sendiri, masturbasi cepat.
Posisi ketiga: doggy. Elan berdiri di belakang, tangannya mencengkeram pinggulku kuat. Dia ngentot brutal, kontolnya menghantam prostatku berulang. “Fuck… gue mau keluar!” erangnya. Tapi dia tahan, tarik keluar, ganti kondom baru.
Sekarang gantian. Aku yang ngentot dia. Elan telungkup, bokongnya naik. Aku oles pelumas ke kontolku yang sudah berdenyut, lalu masuk pelan ke lubangnya yang ketat. “Ughh… gede banget kontol lo,” keluh Elan. Aku dorong dalam, mulai pompa. Rasanya panas, rapat. Aku pegang bahunya, ngentot semakin kenceng.
Posisi keempat: spooning di samping. Kami berbaring miring, aku dari belakang memeluknya sambil ngentot pelan tapi dalam. Tangan kami saling meremas kontol masing-masing. Nafsu memuncak, keringat menetes ke kasur.
Hampir dua jam kami bergantian, ganti posisi, saling hisap kontol, jilat lubang, remas bola. Akhirnya kami klimaks bareng. Aku di dalam bokongnya, Elan muncrat di perutku. Sperma panas memenuhi kondom dan kulit kami.
Kami tergeletak kelelahan, napas ngos-ngosan. Elan nyengir, “Futsal sejam, ngentot dua jam. Besok lagi?”
Aku cuma tertawa sambil cium lehernya yang masih basah keringat. Malam itu baru permulaan.

Posting Komentar untuk "Setelah Futsal 💦"
Posting Komentar