Widget HTML #1

Tinggal Serumah dengan BFku


Aku memutuskan tinggal serumah dengan pacarku di sebuah rumah kontrakan di pinggir kota besar. 

Lingkungannya individualis banget, tetangga tak peduli siapa yang keluar masuk rumah. Bukan seperti di desa yang semua orang jadi satpam kampung. 

Pemilik kontrakan cuma tahu kami teman sekamar yang sama-sama merantau kerja.

Dia berangkat pagi sekali, kadang sebelum subuh, pulang sore atau malah malam tergantung proyek kantornya. 

Aku remote working, jadi seharian di rumah, ngetik laporan sambil nunggu dia balik. Begitu pintu dikunci, baju langsung dilepas. Kami nggak buang waktu.

Malam itu dia pulang jam sembilan, badannya bau keringat campur parfum mahal. Aku sudah telanjang di sofa, kontol setengah tegang nungguin. 

“Capek?” tanyaku sambil nyengir. 

Dia nggak jawab, langsung nyium kasar, lidahnya masuk dalam, tangannya meremas pantatku kuat-kuat. 

“Mau ngentot kamu sekarang,” bisiknya serak.

Kami nggak sampe ke kamar. Dia dorong aku ke meja makan, bikin aku membungkuk. 

Celananya diturunin cepat, kontolnya yang tebal dan panjang sudah ngaceng keras, kepalanya basah precum. Tanpa pelumas banyak, dia dorong masuk ke lubang pantatku yang sudah lapar. 

“Ahh… enak banget memek pantat lo,” erangnya sambil ngocok pinggulku. 

Aku cuma bisa mendengus, tangan mencengkeram pinggir meja. Setiap hentakan bunyinya basah dan mesum, bola-bolanya ngeplak ke pantatku. 

Dia tarik rambutku ke belakang, gigit leherku sambil ngepompa lebih cepat. 

“Milik gue doang ini,” katanya tiap kali kontolnya nyodok dalam-dalam sampe nyentuh prostatku. Aku muncrat duluan ke lantai, tubuhku kejang. 

Dia ikut ngebut, lalu menyemburkan sperma panas banyak banget di dalam pantatku sampai meluber keluar.

Kami mandi bareng, terus tidur saling peluk. Sabtu-Minggu jadi milik kami berdua. Pagi-pagi dia bangunin aku dengan hisapan di kontol. 

Mulutnya panas dan basah, lidahnya muter-muter di kepala kontolku sambil tangannya ngocok zakarku. 

Aku balas ngejilatin kontolnya yang bau sabun dan sisa sperma kemarin. Enak banget rasanya kontol tebal itu ngeganjel tenggorokan. Kadang kami 69 di kasur, saling ngisep sampe salivanya belepotan.

Siangnya kami sering ke gunung atau pantai sepi buat liburan alam. Di tenda kecil, kami ngentot lagi. Dia suka ngajak aku doggy di rerumputan, angin sejuk tiup pantat telanjang kami. “Kenceng banget memek lo, sayang,” katanya sambil ngebor dalam-dalam. 

Aku cuma bisa mengerang nama dia, minta ditambah, minta disemprot lagi. Sperma kami campur keringat dan tanah. 

Malamnya di tenda, kami ulang lagi, pelan-pelan, romantis, tapi tetap mesum. Kontolnya masuk keluar pelan sambil dia cium bibirku dalam.

Tak ada yang tahu kami pasangan. Keluargaku kira aku cuma kerja dan kontrakan dengan temen cowok biasa. Mereka nggak pernah curiga. 

Kami juga hati-hati, nggak pamer mesra di luar. Tapi di dalam rumah, kami bebas. Kadang aku mikir, sampai kapan ini bisa bertahan? Kerjaannya makin sibuk, tekanan keluarga buat nikah juga mulai terasa. 

Tapi setiap kali dia peluk aku dari belakang dan kontolnya mengeras di celah pantatku, semua keraguan ilang seketika.

Malam ini lagi, dia baru pulang. Aku sudah siap di tempat tidur, lubang pantatku sudah dioles pelumas. 

“Mau gue entot sampe pagi,” katanya sambil naik ke kasur, kontolnya tegak menantang. Aku buka kaki lebar-lebar, “Masukkin semua, sayang. Punya lo ini.”

Posting Komentar untuk "Tinggal Serumah dengan BFku"