Uke itu Jadi Topku
Aku hanya pasrah dan mendesah pelan saat Elan menyetubuhiku. Tubuhku sudah lemas di atas kasur hotel yang berantakan, keringat bercampur cairan kami.
Elan di atasku, napasnya panas menyapu tengkukku, pinggulnya bergerak ritmis dan dalam. Dia sangat ahli.
Setiap dorongan kontolnya yang tebal dan panjang selalu tepat mengenai titik sensitifku, membuat prostatku berdenyut nikmat.
“Uhh… Elan… pelan dulu…” desahku, suaraku pecah. Tapi dia malah mempercepat.
Tangan besarnya mencengkeram pinggangku, menarikku ke belakang agar semakin dalam.
Kontolku yang sudah basah kuyup meneteskan precum ke sprei. Aku benar-benar bottom malam ini, pasrah total.
Kami ganti tiga posisi. Pertama missionary, kaki-ku ditindih bahunya sampai lutut hampir menyentuh dada.
Kedua, doggy style yang brutal—dia berdiri di belakang, tangannya memukul pelan bokongku sambil kontolnya menghantam masuk keluar dengan bunyi basah “plok-plok-plok”.
Ketiga, aku duduk di pangkuannya, cowgirl style. Aku naik turun sambil memeluk lehernya, kontolku terjepit di antara perut kami yang licin keringat.
Saking enaknya, ujung penisku basah sekali. Cairan bening terus keluar tanpa henti, membuat perut Elan licin.
Kakiku gemeteran hebat, lututku lemas seperti jelly.
“Ahh… fuck… mau keluar lagi…” erangku.
Elan hanya nyengir, tangannya meremas kontolku sambil terus mendongkrak pinggulnya dari bawah.
“Keluarin aja, sayang. Basahin aku.”
Aku orgasme duluan, cairan putihku memuncrat sampai ke dada Elan. Tak lama kemudian dia ikut meledak di dalamku, panas, banyak, dan dalam.
Aku merasakan tiap denyutannya memenuhi lubangku yang sudah longgar dan berdenyut.
Kami ambruk bersama, napas tersengal. Setelah membersihkan diri sekilas, kami keluar ke balkon kamar hotel.
Malam kota masih panas, angin laut bertiup pelan. Kami duduk di kursi santai, hanya memakai handuk di pinggang, sambil menyesap teh hangat yang dipesan lewat room service.
Aku menatap Elan, masih takjub.
“Kok bisa ya… kamu uke gini malah jadi top yang gila-gilaan. Aku kira uke itu selalu bottom.”
Elan tertawa kecil, menyeruput tehnya. Dia mengusap rambut basahnya yang acak-acakan.
“Kamu masih pakai mindset lama ya. Menurutku, top dan bottom itu cuma penyebutan saat ngewek. Siapa yang ngentot, siapa yang dientot. Seme dan uke itu lebih ke relasi asmara, emosional.”
Aku mengerutkan kening.
“Jadi beda?”
“Bedalah. Aku uke dalam relasi kita. Aku yang manja, yang suka dipeluk, yang minta perhatian, yang suka dimanja. Tapi saat di ranjang, aku bisa top. Bahkan suka. Karena ngewek itu soal skill dan mood, bukan label permanen. Banyak yang salah paham kayak kamu, mengira uke sama boti itu identik. Padahal enggak. Bahasa Jepang dan bahasa lokal beda konteks.”
Aku terdiam, mengingat-ingat. Selama ini aku memang berpikir uke = bottom total, seme = top total.
Ternyata Elan punya pandangan yang lebih cair. Dia bisa lembut dan manja di luar, tapi di dalam selimut jadi predator yang haus. Dan aku suka itu. Sangat.
“Kamu kaget?” tanyanya sambil tersenyum miring, tangannya merayap ke pahaku di bawah handuk.
“Agak. Tapi… enak sih,” jawabku jujur, pipiku panas lagi.
Kontolku di bawah handuk mulai bereaksi hanya karena sentuhannya.
Elan tertawa pelan.
“Besok aku yang bottom lagi deh. Biar adil. Tapi malam ini… masih ada energi nggak?”
Aku menatapnya, lalu menarik handuknya turun. Kontolnya sudah setengah tegang lagi. Aku menggenggamnya, mengocok pelan.
“Masih. Kali ini aku yang atas dulu.”
Kami kembali ke kamar, pintu balkon masih terbuka sedikit. Angin malam menyaksikan bagaimana label-label itu luluh dalam kenikmatan yang basah dan vulgar.
Elan memang uke hatinya, tapi kontolnya bisa jadi raja kapan saja. Dan aku? Aku hanya pasrah, mendesah, dan menikmati setiap inci dari kejutan manis itu.

Posting Komentar untuk "Uke itu Jadi Topku"
Posting Komentar