Widget HTML #1

Aku cuma satu boti dari sekian banyak boti lainnya




Aku buka TikTok, tapi jantungku berdegup kencang saat pesan masuk dari akun yang sering muncul di beranda. 

Foto profilnya menunjukkan cowok tinggi dengan tubuh proporsional, rahang tegas, dan senyum yang langsung membuatku lemas.

“Hai,” katanya singkat.

“Iya?” balasku.

“Salken. Aku sering lihat profilmu. Suka banget postingan-postinganmu.”

Obrolan mengalir cepat. Tak lama kemudian kami tukar nomor WhatsApp. Malam itu juga dia mengajakku datang ke tempat tinggalnya. 

“Santai aja,” tulisnya. Aku tahu apa arti “santai” itu, tapi aku tetap datang.

Siapa yang tak kepincut? Tubuhnya tegap, dada bidang, perut rata, dan aura maskulin yang kuat. 

Sebelum bertemu, dia memastikan dulu, “Kamu boti kan?” Aku jawab iya tanpa ragu.

Begitu pintu kamar tertutup, suasana langsung berubah. Dia mendekat, tangannya yang besar memegang pinggangku dengan tegas. Aku pasrah total. 

Dia menyuruhku berlutut, dan aku menurut. Lidahku menjilat kontolnya yang sudah keras dan berurat. Dia mendesah pelan sambil memegang kepalaku. 

Lalu dia membalik tubuhku, menyuruhku nungging di tepi kasur. Aku ngangkang lebar, pasrah saat dia masuk pelan tapi dalam. 

Rasa penuh itu menyakitkan sekaligus nikmat luar biasa. Dia menggoyang pinggulnya kuat, tangannya mencengkeram pinggulku. Kami melakukannya dua ronde malam itu. Dia menyelesaikan di dalam sambil mendesis.

Selesai, dia mencium keningku lembut. “Kamu enak sekali,” bisiknya. 

Aku pulang dengan hati berbunga-bunga. Ini adalah impianku sejak lama—bisa disentuh dan digunakan oleh cowok secakep dia. Rasanya seperti mendapat bonus tak terduga.

Tapi setelah malam itu, semuanya berubah drastis.

Pesan-pesanku dibalas lambat. Ajakan bertemu berikutnya selalu ditolak dengan alasan sibuk. 

Dia menjadi pasif, dingin. Kadang terlihat online tapi tak membalas. Aku merasa dibuang begitu saja.

Dua minggu kemudian baru aku tahu dari beberapa orang di komunitas. Dia ternyata seorang player. 

Sudah banyak boti yang dia ajak ke tempatnya. Yang katanya “santai sekali” itu hanya rutinitas baginya. Setelah puas dan lubangnya koyak, dia biasanya bosan dan berpindah ke yang baru.

Aku duduk sendirian di kamar, memeluk lutut. Malam itu air mataku jatuh diam-diam. 

Bagiku, dia adalah satu-satunya. Cowok yang tiba-tiba datang dan membuatku merasa benar-benar diinginkan. 

Tapi baginya, aku hanyalah satu dari sekian banyak. Hanya salah satu lubang yang berhasil ditaklukkan sebelum dia melanjutkan ke yang lain.

Sekarang setiap kali melihat fotonya, tak ada lagi debaran. Hanya ada rasa perih yang pelan-pelan berubah menjadi pelajaran pahit.

Kadang yang paling menyakitkan bukan karena dia pergi, tapi karena menyadari bahwa momen terindah bagimu hanyalah rutinitas biasa baginya.

Posting Komentar untuk "Aku cuma satu boti dari sekian banyak boti lainnya"