Bahkan si Top pun Pengen Jadi Botiku
Malam itu, seperti biasa, aku membuka aplikasi dengan harapan kecil. Bio-ku sudah jelas: bottom, suka yang tegas, maskulin.
Tapi entah kenapa, yang datang malah kebanyakan yang mirip aku—cowok berbadan atletis, otot menonjol, tapi di dalam hati ingin menyerah. Pesan demi pesan masuk.
“Sayang banget cowok muscle kayak kamu jadi bottom, jadi top aja dong.”
Aku hanya tersenyum miris. Sudah berulang kali mendengar kalimat itu. Badanku memang hasil gym bertahun-tahun: dada bidang, lengan tebal, perut six-pack yang terlihat meski pakai kaos longgar.
Orang-orang langsung berasumsi aku pasti suka mendominasi. Padahal aku justru haus disentuh, dipegang kuat, dan ditaklukkan.
Akhirnya, setelah berbulan-bulan chat, aku ketemu dengan dia. Top, aktif, suka yang berbadan besar.
Kami makan malam di sebuah warung sederhana, ngobrol ringan tentang kerjaan, gym, film. Dia tinggi, bahu lebar, senyumnya percaya diri.
Aku sudah membayangkan malam ini. Sudah lama sekali lubangku tak disentuh. Aku makan serat lebih banyak, membersihkan diri dengan teliti, mempersiapkan tubuhku agar siap menerima.
Malam semakin larut, aku bilang kos-ku jauh. Dia menawarkan numpang.
Di kamar kecilnya, lampu redup. Kami duduk di tepi kasur. Aku mendekat, tanganku menyentuh dadanya. Tapi dia malah memeluk pinggangku, menarikku ke pelukannya.
“Kamu enak banget dipeluk,” bisiknya.
Kami cuddle lama. Tubuhnya hangat, ototnya keras menempel di tubuhku. Aku menunggu, jantung berdegup. Tanganku turun ke pinggulnya, memberi isyarat. Tapi dia justru membalik posisi, menatapku dengan mata penuh permohonan.
“Malam ini… aku yang mau dientot ya,” katanya pelan.
Aku terdiam. Lagi. Rasanya seperti déjà vu yang pahit. Aku sudah siap menyerahkan diri, sudah basah dan berdenyut menanti kontol yang akan memasuki lubangku yang lapar.
Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku melakukannya karena kasihan, karena capek menolak, tapi hatiku kosong. Gerakanku mekanis. Dia mendesah keras, menikmati setiap hantaman, sementara aku hanya merasa semakin hampa.
Setelah selesai, kami berbaring. Dia memelukku dari belakang, puas. Aku menatap langit-langit, bertanya dalam hati: kenapa cowok muscle seperti aku ini seolah sudah ditakdirkan susah mendapatkan top yang benar-benar top?
Apakah badan besar ini otomatis membuat orang berpikir aku harus memimpin? Apakah ada yang benar-benar ingin menguasai aku, membuatku menjerit, membuat lututku lemas?
Pagi harinya, aku pulang dengan perasaan lelah. Di perjalanan, pesan baru masuk lagi dari orang lain.
“Kamu kelihatan banget top-nya.”
Aku menghela napas panjang. Mungkin memang begini dunia ini. Aku tetap membuka aplikasi malam itu juga, mencari lagi.
Karena di balik kekecewaan, harapan kecil itu masih ada—suatu saat, ada yang melihatku bukan sebagai yang harus mendominasi, tapi sebagai yang ingin ditaklukkan sepenuhnya.
Lubangku masih haus. Tubuhku masih siap menyerah. Hanya perlu satu orang yang mengerti.

Posting Komentar untuk "Bahkan si Top pun Pengen Jadi Botiku"
Posting Komentar