Widget HTML #1

Cddl sama Adiet




Sejak bergabung dengan komunitas lari pagi di taman kota, mataku selalu tertarik ke satu orang: Adiet. 

Badannya slim tapi berisi, otot kaki dan perutnya terpahat halus dari rutinitas lari. 

Kulitnya eksotis, sawo matang kecokelatan yang mengkilap saat keringat menetes. 

Mukanya kalem, mata sipit yang selalu tersenyum malu-malu. Setiap kali dia meregangkan tubuh setelah lari, kontolnya yang terlihat samar di balik celana pendek olahraga membuat imajinasiku liar.

Suatu malam, aku memberanikan diri main ke kosannya. 

“Boleh mampir? ” kataku. 

Dia mengangguk, wajahnya merah tipis. Kosnya kecil, hanya satu kamar dengan kasur tipis dan AC rusak. 

Begitu pintu tertutup, aku langsung memeluknya dari belakang. Tubuhnya hangat, bau sabun mandi campur keringat lari masih menempel.

Kami berbaring di kasur. Aku cuddle dia semalaman. Tanganku merayap ke bawah kaosnya, menemukan putingnya yang kecil dan keras. 

“Suka ini ya?” bisikku sambil menjilat lehernya. 

Adiet mendesah pelan, tubuhnya menggeliat. Dia memang suka diendus lehernya. Aku menghirup dalam-dalam aroma kulitnya yang manis, lalu mengecup dan menggigit pelan. 

Mulutku turun ke dada, menyedot puting kirinya kuat-kuat sampai dia mengaduh, “Ahh… pelan, Bang…”

Kontolku sudah ngaceng keras di balik celana. Aku gesek-gesekkan ke paha Adiet yang mulus. 

“Mau gak dientot malam ini?” tanyaku langsung, tangan kananku meremas pantatnya yang kencang. 

Dia menggeleng cepat, matanya ketakutan. 

“Belum pernah… aku takut sakit,” jawabnya pelan. 

Aku mengerti. Dia virgin di lubang pantatnya. Aku cuma mengangguk, mencium keningnya. 

“Gak apa-apa, kita pelan-pelan aja malam ini.”

Malam itu aku nginap. Kami telanjang bulat di bawah selimut tipis. Aku memeluknya dari belakang, kontolku yang tebal nempel di celah pantatnya tanpa masuk. Hanya bergesekan pelan, basah oleh precum. 

Adiet suka ketika aku isep putingnya sambil tanganku memegang kontolnya yang ramping. Bentuknya lucu banget—seperti pensil, panjang tapi tipis, ujungnya lancip dan kepala kontolnya kecil menggemaskan. 

Aku pompa pelan, jempolku mengusap lubang kencingnya yang sudah basah. 

“Enak, Bang…” desahnya.

Pagi harinya, aku bangun duluan. Adiet masih tidur pulas dengan wajah alami yang polos. Rambutnya acak-acakan, bibirnya sedikit terbuka, ada sedikit air liur di sudut mulut. 

Cahaya matahari pagi menyusup lewat gorden tipis, menerangi kulit eksotisnya yang mulus. Aku menatap setiap sudut tubuhnya: bahu yang ramping, pinggang yang kecil, bulu halus di perut bawah, dan kontol pensilnya yang pagi ini setengah tegang, ujung lancipnya mengkilap.

Aku suka nyaris semua hal tentang Adiet. Caranya tertawa malu, caranya lari dengan napas terengah, bahkan bau ketiaknya yang sedikit asin setelah olahraga. 

Aku merangkak mendekat, mengecup ujung kontolnya pelan. Dia menggeliat bangun, mata sipitnya membuka. “Bang… pagi,” gumamnya dengan suara serak.

Aku tersenyum, naik ke atasnya lagi. 

“Pagi, sayang. Masih takut dientot?” Dia menggigit bibir, tapi kali ini tangannya meraih kontolku. “Pelan-pelan ya… coba dulu.”

Malam itu kami hanya cuddle dan saling isep, tapi pagi ini terasa seperti awal dari sesuatu yang lebih dalam. 

Aku mencium lehernya lagi, menghirup aromanya dalam-dalam, tanganku merayap ke bawah, siap mengajari Adiet kenikmatan baru yang vulgar dan panas.

Posting Komentar untuk "Cddl sama Adiet"