Harus Terbiasa Tidur Berdua di Kamar Kos
Malam pertama itu terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung usai.
Aku dan Dery baru saja selesai memindahkan barang-barang ke kamar kos baru yang mewah—AC dingin, kasur king size, kamar mandi dalam, dan balkon kecil menghadap taman.
Semua karena patungan. Bokap Dery yang kebetulan teman bokapku bilang,
“Daripada kalian kos sendiri-sendiri, mending bareng. Hemat, sekaligus ada temen.”
Aku setuju waktu itu. Kuliah di kota yang sama, biaya kos mahal, dan kamar ini memang bagus. Tapi aku tidak pernah bayangkan kalau “temen sekamar” ini punya kebiasaan tidur yang… aneh.
Malam itu, setelah mandi, aku naik ke kasur dengan kaos longgar dan celana pendek. Dery keluar dari kamar mandi cuma pakai handuk di pinggang.
Tanpa basa-basi, dia buka handuknya, lempar ke kursi, dan langsung naik ke kasur.
“Kenapa kamu lepas baju?” tanyaku, suaraku agak serak.
Dery menoleh sambil nyengir, “Gue biasa kalau tidur pake sempak doang.”
“Ha?”
Dia sudah telentang, tangan di belakang kepala, santai sekali. Tubuhnya yang atletis karena sering main futsal itu cuma tertutup celana dalam hitam ketat.
Aku buru-buru memalingkan muka, pura-pura sibuk dengan ponsel.
Selama ini aku selalu tidur sendirian. Sekarang satu kasur, meski king size, rasanya sempit banget. Apalagi Dery ternyata orang yang gak bisa diam saat tidur.
Tengah malam, aku merasakan gerakan. Tiba-tiba lengannya melingkar di pundakku dari belakang, dada telanjangnya menempel di punggungku. Napasnya hangat di tengkuk.
Aku membeku. Jantung berdegup kencang. “Bro… lo pindah dikit dong,” gumamku pelan sambil menggeser tubuh.
Dery hanya mendengus dalam tidurnya, malah makin erat memeluk. Bau sabun mandinya bercampur keringat malam terasa dekat sekali. Aku terjaga hampir sampai subuh.
Pagi harinya, Dery bangun segar bugar. “Lo tidur nyenyak gak? Gue enak banget semalem,” katanya sambil menguap, masih cuma pakai sempak, jalan ke kamar mandi tanpa malu-malu.
Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Aneh banget. Rasanya seperti tidur seranjang sama saudara, tapi yang ini bukan saudara dan badannya… ya gitu lah.
Harapanku dulu patungan biar dapet kos mewah, tapi sekarang malah jadi drama tiap malam.
Hari-hari berikutnya sama saja. Dery tidur telanjang dada, gerakannya liar. Kadang tangannya nyelonong ke perutku, kadang kakinya numpang di pahaku.
Aku sering terbangun, gelisah, tapi dia? Santuy banget. Pagi-pagi dia bangun, senyum lebar, “Pagi bro, lo ngorok semalem loh.”
Aku ingin protes. Ingin bilang ini aneh, ini mengganggu. Tapi setiap kali lihat struk pembayaran setahun di depan, aku mengurungkan niat.
Uang sudah telanjur keluar. Kos lain sudah penuh. Dan Dery sebenarnya anaknya baik—rajin, gak ribet, suka traktir makan malam.
Mungkin aku harus membiasakan diri.
Malam ini aku mencoba. Setelah lampu dimatikan, aku berbaring tegang. Dery seperti biasa melepas baju, naik ke kasur. Beberapa menit kemudian, lengannya kembali melingkar. Kali ini aku tidak mengelak. Aku tarik napas dalam-dalam, mencoba rileks.
“Lo gak apa-apa kan tidur gini?” tanyanya tiba-tiba, suaranya mengantuk.
Aku diam sebentar. “Udah biasa kok,” jawabku akhirnya.
Bohong. Tapi mungkin suatu saat nanti jadi benar.
Di luar jendela, angin malam berhembus pelan. Kasur king size ini masih terasa sempit, tapi entah kenapa, pelukan tak sengaja itu mulai terasa… hangat. Bukan hangat yang aneh lagi, melainkan hangat yang biasa saja.
Mungkin, dalam kesepian kota besar ini, aku baru sadar: ada teman sekamar yang lebih buruk daripada Dery.

Posting Komentar untuk "Harus Terbiasa Tidur Berdua di Kamar Kos"
Posting Komentar