Jika Ternyata Aku Menyukainya
Sore itu panas masih menyengat ketika aku tiba di rumah Arman di pinggir desa. Pintu depan terbuka, tapi tak ada jawaban saat aku panggil.
Aku berjalan menyusuri samping rumah, dan di belakang, di lahan yang kini jadi kebun dan kandang ayam, aku melihatnya.
Arman sedang mencangkul. Tubuhnya yang telanjang bulat kecuali sempak abu-abu ketat mengkilap oleh keringat.
Otot punggungnya naik turun setiap kali cangkul menghantam tanah. Keringat mengalir di lekuk pinggangnya yang ramping, membuat sempaknya basah dan menempel ketat di bokong yang kencang.
Mantan karyawan kantoran yang dulu selalu rapi dengan kemeja itu kini bertransformasi total—meneruskan usaha orang tuanya yang sudah meninggal.
Kulitnya masih mulus seperti dulu, hanya sedikit lebih eksotis karena terbakar matahari. Wangi sabun mandi dan tanah basah bercampur, anehnya tetap segar.
Wajahnya tetap tampan, manly, rahang tegas, rambut hitam tertata meski berkeringat.
“Lu beneran nyangkul tadi?” tanyaku sambil tertawa.
“Iya lah,” jawabnya sambil menyeka keringat di dahi dengan lengan. Senyumnya lebar, gigi putih berkilau.
Aku tak pernah melihat petani semacam dia. Meski kepanasan, tubuhnya glowing. Mataku tanpa sadar turun ke sempaknya yang basah kuyup, garis kontur kejantanannya samar terlihat.
Seketika aku ngaceng. Sial. Aku cepat mengalihkan pandangan. Dia sahabatku sejak kuliah. Straight banget. Punya pacar cewek dulu sebelum pindah ke sini.
“Lu nyangkul sempakan doang?” godaku.
“Iya, biar lebih leluasa gerak,” katanya santai. “Lagian kebun sendiri, belakang rumah. Gak ada yang liat.”
“Gak takut gosong semua?”
“Sekalian gosong,” balasnya sambil tertawa. “Daripada belang di lengan kayak karyawan kantoran dulu.”
Dia akhirnya berhenti. “Tunggu ya, aku mandi bentar.”
Tak sampai sepuluh menit, Arman keluar ke ruang tengah hanya pakai handuk putih melilit pinggang. Rambutnya masih basah, tetesan air mengalir di dada bidangnya yang berbentuk sempurna. Aroma sabun mandi maskulin langsung memenuhi ruangan.
“Kerja fisik itu enak banget, bro,” katanya sambil duduk di sofa, kaki terbuka lebar.
“Capek maksimal, tapi mandi gini rasanya luar biasa seger. Apalagi kebunnya deket rumah, bisa bebas. Nyangkul sempakan doang, angin sepoi-sepoi di kulit.”
Kami tertawa bersama. Tapi dalam hati aku gelisah. Bau tubuhnya yang segar setelah mandi membuatku ingin mendekat, mengendus lehernya, menjilat keringat yang tadi mengalir di perutnya.
Aku bayangkan tanganku menyentuh kulit mulus itu, menarik handuknya pelan, melihat apa yang tersembunyi di balik sempak basah tadi.
Apa jangan-jangan aku suka sama Arman?
Dia menatapku lama, senyumnya agak berbeda. “Kenapa? Kok dari tadi melamun?”
Aku menggeleng, tapi jantungku berdegup kencang. Tangan Arman tanpa sengaja menyentuh pahaku saat ia mengambil gelas air. Sentuhan itu seperti listrik. Handuknya agak melorot, memperlihatkan garis V yang dalam di pinggulnya.
Malam mulai turun. Aku tahu aku seharusnya pulang, tapi kakiku tak mau bergerak. Arman bangkit, handuknya hampir lepas. Ia berdiri di depanku, tubuh tinggi tegap, masih sedikit lembab.
“Malem ini nginap aja,” katanya pelan, suaranya agak serak. “Besok pagi kita ke kebun bareng. Aku ajarin nyangkul… pake sempak juga boleh.”
Aku menelan ludah. Di mata Arman ada sesuatu yang baru—bukan tatapan sahabat biasa. Mungkin aku salah. Atau mungkin, di balik tubuh petani yang manly ini, ada sesuatu yang selama ini tersembunyi.
Aku tersenyum, tanganku gemetar saat menyentuh lengannya yang masih hangat.
“Ya udah… aku nginap.”

Posting Komentar untuk "Jika Ternyata Aku Menyukainya"
Posting Komentar